Showing posts with label orang tua. Show all posts
Showing posts with label orang tua. Show all posts

Thursday, 10 March 2016

JAUHKAN ANAKMU DARI KEMUDAHAN

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.

Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu "ada main" dengan dosen-dosennya. "Karena mereka tak sepintar aku," ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar:

Thursday, 24 October 2013

Jangan Jadi Orang Tua Durhaka

Selama ini kita lebih sering mendengar istilah anak durhaka daripada orang tua durhaka. Orang tua durhaka? Adakah? Melalui akun twitter @ajobendri, Ustaz Bendri Jaisyurrahman, dari gerakan @sahabatAYAH akan menjelaskan lebih gamblang.

1. Hal yg indah ketika Allah memberi amanah kepada orang tua. Lahirnya anak sebagai pelipur lara. Dinanti sejak awal berumah tangga.

2. #anak dinantikan hadirnya, namun saat terlahir banyak yg mengabaikannya demi mengejar obsesi dunia.

3. Banyak pasangan berobat demi mendapatkan #anak. Di sisi lain banyak pasangan setelah memiliki anak sibuk dgn mencari harta yg banyak.

happy-muslim-family-cartoon-2

Thursday, 25 July 2013

Tuesday, 23 July 2013

37 Kebiasaan Orang Tua Yang Tanpa Disadari Menghasilkan Perilaku Buruk Pada Anak [habis]



23. Mengungkit kesalahan masa lalu
Kebiasan menjadi pendengar yang buruk dan terlalu cepat menyimpulkan akan dilanjutkan dengan penutup yang tidak kalah menyakitkan hati anak kita, yakni dengan mengungkit ungkit catatan kesalahan yang pernah dibuat anak kita. Contohnya, “Tuh kan Papa/Mama bilang apa? Kamu tidak pernah mau dengerin sih, sekarang kejadian kan. Makanya dengerin kalau orang tua ngomong. Dasar kamu emang anak bodo sih.”

Kiat berharap dengan mengungkit kejadian masa lalu, anak akan belajar dari masalah. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, ia akan sakit hati dan berusaha mengulangi kesalahannya sebagai tindakan balasan dari sakit hatinya.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

37 Kebiasaan Orang Tua Yang Tanpa Disadari Menghasilkan Perilaku Buruk Pada Anak [11-22]


11. Hadiah untuk Perilaku Buruk Anak
Acapkali kita tidak konsisten dengan pernyataan yang pernah kita nyatakan. Bila hal ini terjadi, tanpa kita sadari kita telah mengajari anak untuk melawan kita. 

Contoh klasik dan sering terjadi adalah pada saat kita bersama anak di tempat umum, anak merengek meminta sesuatu dan rengekennya menjadi teriakan dan ada gerak perlawanan. Anak terus mencari akal agar keinginnanya dikabulkan, bahkan seringkali membuat kita sebagai orang tua malu. Pada saat inilah kita seringkali luluh karena tidak sabar lagi dengan rengekan anak kita. Akhirnya kita mengiyakan keinginan si Anak. “Ya sudah;kamu ambil satu permennya. Satu saja ya!”

37 Kebiasaan Orang Tua Yang Tanpa Disadari Menghasilkan Perilaku Buruk Pada Anak [1-10]

Ini adalah satu artikel yang saya dapatkan dari blog ummuyusufabdurrahman . Isinya adalah beberapa kebiasaan yang dilakukan orangtua yang dampaknya (baik secara langsung maupun tidak langsung) dapat berakibat perilaku buruk pada anak. 

Setelah saya membaca, memang ternyata sebagian besar hal ini sering dilakukan oleh para orangtua, misalnya tentang ketidakkejujuran, ketidak-konsistenan perkataan dan perbuatan, suka mengancam, dan sebagainya.

Smoga bacaan ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita smua agar menjadi orangtua dengan perilaku yang lebih baik dan menghasilkan generasi yang berkualitas, insya Allah.. ^_^

***

Friday, 12 April 2013

5 cara mendidik anak sholeh/ah

Dalam sebuah kisah, diceritakan bahwa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai. Saat berjalan-jalan, terlihatlah olehnya seorang anak sedang mengambil wudhu sambil menangis. Lalu ia beratanya, “Wahai anak kecil, kenapa kamu menangis?”

Anak itu menjawab, “Wahai kakek, saya telah membaca ayat Al-Quran sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, “Yâ ayyuhal-ladzîna âmanû qû anfusakum,”yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu.” Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka.”
 
 Berkata orang tua itu, “Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

Anak itu menjawab, “Wahai kakek, kakek adalah orang yang berakal, tidakkah kakek lihat kalau orang menyalakan api, maka yang pertama akan mereka letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa.”

Berkata orang tua itu, sambil menangis, “Sesungguh anak ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa, maka bagaimanakah keadaan kami nanti?”

Bayangkan bila saja yang diceritakan dalam potongan kisah tersebut adalah anak kita. Anak yang kita lahirkan dan besarkan dengan keringat dan jerih payah. Tentu betapa beruntung dan berbahagianya kita sebagai orang tua. Betapa pun banyak keringat yang telah tercucur, tenaga yang telah terkuras, pikiran dan waktu yang telah tersita, semua takkan ada apa-apanya dibandingkan dengan hasil yang kita peroleh, yaitu anak yang shaleh.

Memiliki anak shaleh merupakan dambaan setiap keluarga. Di samping sebagai penerus keturunan, kelak anak shaleh juga akan menjadi investasi di masa yang akan datang. Do’a-do’a anak shaleh adalah pahala yang akan terus mengalir tanpa henti. Ia akan menembus langit dan akhirnya sampai kepada kita sebagai orang tua sebelum ataupun sesudah kita mati.


Berkeinginan memiliki anak yang shaleh bukanlah khayalan. Siapa pun orangnya sama memiliki kesempatan untuk mewujudkannya. Kehadiran anak shaleh dalam sebuah keluarga bukanlah mu’jizat atau turun dari langit dengan sendirinya. Ia akan hadir di tengah-tengah kita tiada lain merupakan buah dari usaha yang kita lakukan dalam mendidiknya. Bila kita berkeinginan dan berusaha keras mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh, maka ia akan tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tetapi jika tidak, keinginan untuk memiliki anak shaleh hanyalah sebuah angan-angan dan hayalan semata.

Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak
membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”

Berikut adalah beberapa metode dalam mendidik anak, agar anak diharapkan dapat memiliki sikap dan perilaku yang baik serta sesuai dengan keinginan orang tua dengan berlandaskan norma dan agama.

1.Keteladanan
Keluarga, khususnya orang tua adalah figur awal bagi seorang anak untuk diikuti dan dicontoh perilakunya. Ketika anak mulai beranjak remaja, fungsi ini mulai bergeser kepada kelompok sebaya-nya ataupun figur-figur lain di luar keluarga, seperti tokoh-tokoh dalam film atau cerita. Oleh karena itu, sudah seharusnya orang tua dapat memberikan pondasi awal yang kuat tentang sikap dan perilaku yang positif. Dengan demikian kelak ketika anak dihadapkan kepada situasi yang sangat kompleks, anak akan lebih siap dan konsisten terhadap pendiriannya.

Agar tujuan ini terwujud, maka tentunya harus ada keteladanan dari orang tua. Ingatlah suatu perbuatan orang tua tidak akan efektif bila hanya terjadi komunikasi satu arah. Berilah contoh yang kepada anak mengenai perilaku yang baik dari orang tua mereka sehari-hari. Ini bisa dimulai dengan hal-hal yang biasa sehari-hari kita lakukan di rumah. Dengan begitu, kedepan diharapkan anak akan dapat mulai sedikit demi sedikit mencontoh perilaku yang positif dari orang tuanya.

 
2.Pembiasaan
Setelah adanya contoh yang baik dari orang tua, maka perlu dilakukan pembiasaan dari perilaku-perilaku yang telah dilakukan tadi. Hal ini penting karena dihawatirkan bila orang tua saat tak ada disisi mereka, perilaku-perilaku yang anak lakukan akan dapat berubah kembali. Dengan adanya pembiasaan, maka perilaku positif tersebut akan menjadi tabiat positif anak sehingga ada atau tidak ada orang tua, hal-hal positif tetap mereka lakukan.

 
3.Nasihat
Selanjutnya adalah nasihat. Dikala proses diatas berlangsung, orang tua juga harus senantiasa memberikan pengertian-pengertian ataupun pemahaman-pemahaman kepada anak mengapa suatu perilaku itu harus dilakukan, apa manfaatnya, baik untuk diri sendiri dan yang terpenting untuk orang lain.

 
4.Kontrol
Setelah langkah-langkah di atas berjalan dengan baik, maka selanjutnya adalah kontrol dari orang tua. Dalam pelaksanaannya, kontrol yang dilakukan mesti dijalankan secara arif dan bijaksana, tidak dengan membuat posisi anak menjadi tersudut, sehingga kontrol justru tidak menjadi efektif.

 
5. Reward and Punishment
Yang terakhir adalah memberikan hadiah dan hukuman. Di samping poin-poin di atas, tips kelima ini juga tak kalah pentingnya untuk menumbuhkan minat dan tanggung jawab pada anak. Namun dari pada itu, sebelumnya harus dingat oleh para orang tua bahwa pemberian hukuman kepada anak dimaksudkan untuk mendidik anak bukan untuk menyudutkan apalagi melukai fisik.

Hukuman yang diberikan tidak hanya semata-mata berbentuk fisik, tetapi juga bisa dilakukan hal-hal lain seperti dengan pengurangan hak, atau pemberian suatu tugas tambahan. Andaikata hukuman fisik terpaksa diberikan, maka harus diperhatikan bahwa cubitan kecil ataupun pukulan ringan bisa bisa diberikan dengan syarat: tidak boleh di bagian-bagian vital anak, tidak boleh pada bagian atas tubuh (perut, dada, leher, kepala, punggung) dan tidak boleh meninggalkan bekas. (muslimahzone.com)

Thursday, 7 February 2013

Beberapa Kesalahan Bermain dengan Bayi





Pernah melihat orangtua yang melempar-lemparkan bayinya ke udara lalu menangkapnya untuk mendengar sang bayi tertawa? Atau mengguncang-guncang bahunya keras sambil berekspresi lucu? Jika Anda melakukan demikian, maka berhentilah segera. Dan jika melihat orang lain berbuat begitu pada bayi mereka, cegahlah, karena sangat berbahaya.

Sindrom bayi terguncang atau shaken baby syndrome adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan salah satu bentuk kekerasan pada bayi akibat mengguncangnya terlalu keras. Seringkali hal ini terjadi karena orangtua merasa kesal bayinya tidak mau berhenti menangis atau terus merengek.

Kondisi ini biasanya terjadi pada bayi berusia kurang dari 1 tahun yang bisa mengakibatkan cedera otak parah dan permanen, cedera tulang belakang, pendarahan di mata (pendarahan retina) bahkan hingga kematian.

Data statistik dari Pusat Pengendalian Penyakit dan Pencegahan Amerika Serikat (CDC) korban dari sindrom bayi terguncang ini umumnya berusia 3-8 bulan, dan sekitar 25 persennya meninggal akibat cedera yang dialaminya.

Dikutip dari Medicinenet, Senin (2/8) bayi memiliki otot leher yang sangat lemah serta memiliki kepala yang berat dan besar untuk ukuran tubuhnya. Selain itu terdapat ruang antara tengkorak dan otak yang memungkinkan untuk perkembangan otak bayi.

Jika bayi mengalami guncangan yang keras, maka bisa menyebabkan otak di dalam tengkorak bergerak yang mengakibatkan memar jaringan otak dan merobek pembuluh darah.

Pada umumnya luka yang timbul termasuk pendarahan di sekitar otak, pendarahan di mata dan sumsum tulang belakang serta cedera pada leher. Namun pada beberapa kasus kadang ditemukan adanya patah tulang rusuk atau patah tulang lainnya. Biasanya luka yang timbul akibat sindrom ini tidak langsung terlihat. Tapi beberapa bayi terkadang mengalami muntah atau menjadi lekas marah.





Gejala umum yang sering terjadi ketika bayi mengalami SBS adalah :


Lesu
Penurunan nafsu makan, atau muntah tanpa sebab yang jelas
Memar di lengan atau dada yang tidak biasa
Bayi tidak tersenyum atau bersuara
Tidak mau menghisap atau menelan
Sulit bernafas
Kejang
Kepala atau dahi tampak lebih besar dari biasanya
Tidak mampu mengangkat kepala
Mata tidak fokus atau tidak dapat mengikuti gerakan

Bayi yang mengalami cedera akibat sindrom ini membutuhkan perawatan darurat, termasuk bantuan pernapasan dan juga operasi. Selain itu seringkali bayi memerlukan pengeringan darah di sekitar otak untuk mengurangi cedera, serta dibutuhkan perawatan lain termasuk pemeriksaan mata (opthalmologic) dan juga saraf (neurologis).

Goyangan ini yang mengakibatkan kerusakan otak serta pendarahan di dalam otak dan pada permukaan otak, sehingga dapat menimbulkan masalah serius pada otak sang bayi, dan dapat mengakibatkan masalah yang berlangsung permanen, seperti :

1. Kerusakan otak

2. Cerebral palsy

3. Kebutaan

4. Epilepsi

5. Kesulitan berbicara

6. Kesulitan belajar

7. Kesulitan koordinasi

8. Serangan jantung

9. Keterbelakangan mental

 

Berikut adalah tips untuk Mencegah SBS :





1. Jangan pernah mengguncang bayi di bawah umur 3 tahun, dengan alasan apapun juga.

2. Beritahukan pentingnya melindungi kepala bayi anda kepada baby sitter atau pengasuh bayi anda.

3. Pastikan semua orang yang dekat dan sering menggendong bayi anda tahu benar bahayanya seorang bayi jika diguncang-guncang atau digoyang.

4. Menghindari memegang bayi selama berargumen.

5. Hindari mendisiplinkan atau menenangkan bayi dan anak ketika orangtua sedang marah.

6. Jika orangtua tidak bisa mengendalikan emosinya, usahakan untuk beristirahat sejenak dan biarkan bayi ditangani oleh anggota keluarga lain atau teman.

7. Jika dengan sengaja/tidak sengaja, anda mengguncang-guncang bayi anda, segera bawa bayi anda ke dokter untuk diperiksakan. Pendarahan di dalam otak hanya dapat diobati jika anda segera memberitahukan kepada dokter bahwa anda baru saja mengguncang bayi anda. Cara ini akan menyelamatkan.

Pada beberapa orang anak bahkan dapat menimbulkan kematian. Ini dikenal dengan shaken-baby-syndrome. Kenapa berbahaya?

1. Bayi memiliki kepala lebih besar dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, dan otot lehernya masih lemah. Jika diguncang, kepalanya akan tersentak ke depan dan ke belakang.

2. Sentakan-sentakan itu akan mengguncang otak dan merusaknya.

3. Pembuluh darah kecilnya akan ikut rusak, menimbulkan pendarahan di otak dan sekitarnya, dan juga di mata bayi.

Resiko terbesar adalah pada bayi dibawah satu tahun, tapi tidak menutup kemungkinan dapat terjadi di usia yang lebih besar. Yang harus diwaspadai adalah guncangan-guncangan ini dapat terjadi justru ketika kita asyik bermain dengan sang bayi.

 


Ada beberapa permainan dan aktivitas yang harus dihindari untuk mencegahnya, antara lain:




1. Melempar bayi ke udara.

2. Lari-lari sambil membawa bayi di punggung atau di kepala.

3. Kuda-kudaan (bayi naik ke punggung, naik ke kaki dan digoyang-goyang).

4. Memutar bayi.

Jangan lupa untuk mengingatkan orang-orang di sekitar sang bayi, seperti saudara-saudaranya, pengasuhnya, dan kakek-neneknya untuk tidak mengguncang bayi.

(Dari beberapa sumber)

Friday, 11 January 2013

Ketika Aku Tua



Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu,
ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.

Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tekhnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.

Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur
Dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

Tuesday, 13 November 2012

Pengasuhan anak pada usia 1-2 tahun


Secara sederhana, mengasuh dapat diartikan dengan proses mendidik, agar kepribadian anak dapat berkembang dengan baik. Salah satu cara agar anak dapat berkembang dengan baik adalah dengan pola Pengasuhan anak pada usia 1-2 tahun penting untuk dilakukan setelah pengasuhan anak pada usia 0-1 tahun.

Cara Mengasuh Anak Usia 1-2 Tahun

Dalam pengasuhan, keluarga menjadi lembaga pertama dan utama dalam pengasuh anak, dimana orangtua mempunyai peranan yang sangat penting dalam memberikan kebutuhan yang diperlukan anak. Pada dasarnya mengasuh anak adalah memberikan kebutuhan dasar anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Ada 3 kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi orangtua. Kebutuhan tersebut berbeda dengan anak usia 0-1 tahun. Meski aspek kebutuhan dasar yang dijelaskan sama, namun variasi pengasuhan berbeda. Aspek dasar tersebut meliputi: kebutuhan kesehatan dan gizi, kebutuhan kasih sayang dan kebutuhan stimulasi.

1. Kebutuhan Kesehatan dan Gizi

- Kebutuhan Nutrisi
  • Meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih.
  • Pemberian makanan tambahan yang mengandung triguna; Zat pembangun, (misalnya susu, telur, ikan, daging. Zat tenaga). (misalnya nasi, ubi, jagung). Zat pelindung, (misalnya buah-buahan, sayuran).
  • Pemberian vitamin A setiap 6 bulan sampai usia 5 tahun
-    Kebutuhan Imunisasi (Campak, Hepatitis, Cacar air Dan Iain-Iain sesuai nasehat yang diberikan dokter).

-    Kebutuhan kebersihan.
  • Anak diharuskan mandi minimal 2 kali setiap hari
  • Menyikat gigi minimal sehabis makan dan sebelum tidur
  • Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan atau sehabis dari Buang Air Besar /Buang Air Kecil (BAB/BAK)
  • Menjaga kebersihan dan kerapihan tempat bermain
  • Menghindari lingkungan yang penuh dengan asap rokok, asap mobil, sampah, debu, racun, lalat, nyamuk, kecoa dan Iain-lain
-    Kebutuhan tidur
  • Minimal 2 jam pada siang hari dan minimal 11,5 jam pada malam hari
  • Membuat kamar tidur banyak mendapat cahaya dan udara segar
-    Kebutuhan Pengobatan/pelayanan kesehatan
  • Perawatan gigi sebaiknya dilakukan setiap 6 bulan sekali
  • Datang ke POSYANDU setiap bulan
-    Kebutuhan bermain/aktivitas fisik, diperlukan guna
  • Merangsang hormon pertumbuhan
  • Merangsang pertumbuhan otot dan tulang
  • Merangsang kecerdasan anak
  • Melatih gerakan motorik kasar dan halus anak
  • Merangsang kreatifitas anak
  • Melatih kemampuan sosialisasi anak

2. Kebutuhan Kasih Sayang

  • Berikan cinta, rasa aman, dan kasih sayang kepada anak, agar anak mengerti bahwa kita menyayangi dan selalu berada didekatnya
  • Belai dan sentuh anak setiap hari
  • Dekap dan peluk anak untuk menjalin kelekatan antara orangtua dan anak
  • Berikan pujian setiap kali anak berhasil melakukan kegiatan rangsangan
  • Jika anak melakukan kesalahan, hendaknya jangan dimarahi namun tegur dan beritahu apa yang seharusnya dilakukan
  • Bacakan dongeng, ajak anak bererita
  • Berikan kata-kata halus/penuh makna untuk melatih kepekaan anak
  • Memotivasi anak agar ia mampu mencoba melakukan sesuatu
  • Berikan panggilan sayang kepada anak

3. Kebutuhan Stimulasi

Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak yang dilakukan oleh lingkungan (ayah, ibu, pengasuh anak, anggota keluarga lain) untuk mempercepat tumbuh kembang. Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan kelambatan tumbuh kembang anak.
Melakukan stimulasi yang memadai artinya merangsang otak anak sehingga perkembangan kemampuan gerakan kasar, gerakan halus, komunikasi pasif, komunikasi aktif, kecerdasan, menolong diri sendiri dan tingkah laku sosial pada anak berlangsung secara optimal sesuai tahapan usia anak. Dengan pengasuhan anak usia 1-2 tahun tersebut akan memaksimalkan tumbuh kembang anak.











Tuesday, 6 November 2012

Hukum KB dalam Islam


KB (Keluarga Berencana, yaitu membatasi jumlah anak, hanya dua saja, atau tiga atau lainnya), suatu kata-kata manis, indah, nan menggiurkan, akan tetapi sebenarnya merupakan makar dan perangkap yang dipropagandakan oleh musuh-musuh Alloh, dan kemudian diikuti oleh banyak kaum muslimin yang kurang menyadari akan maksud dan kandungannya.


Untuk sedikit mengetahui batu di balik udang dari alasan program KB ini, maka saya harapkan kepada para pembaca untuk mengingat kemudian merenungkan alasan yang senantiasa dijadikan dasar bagi program ini: yaitu alasan takut tidak mampu membiayai anak-anak, dan takut tersibukkan dengan mendidik mereka. Saudara-saudaraku yang semoga senantiasa dirahmati Alloh, renungkanlah firman Alloh Ta’ala berikut ini:

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kamu.” (QS. Al Isra’: 31)

Saudara-saudaraku, kita sebagai umat yang beriman kepada Alloh ta’ala, Dzat Yang Maha Memberi rezeki, hendaknya juga percaya bahwa ketika Alloh menciptakan manusia, Alloh Ta’ala juga telah mempersiapkan untuknya segala yang akan ia dapatkan selama hidup di dunia, sehingga tidaklah ada sesuap makanan yang masuk ke dalam mulutnya, melainkan sebagian dari rezeki yang telah Alloh tuliskan untuknya. Alloh ta’ala tidak pernah menciptakan satu manusia pun tanpa jatah rezeki, bahkan semenjak kita masih di dalam perut ibu kita masing-masing, Alloh telah mengutus seorang malaikat untuk menuliskan jatah rezeki kita:

“Sesungguhnya penciptaan setiap orang dari kamu di dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk air mani, kemudian berubah menjadi segumpal darah semasa itu juga (selama 40 hari), kemudian menjadi segumpal daging semasa itu juga (selama 40 hari), kemudian Alloh mengutus seorang malaikat, dan ia diperintahkan dengan empat hal, dan dikatakan kepadanya: tuliskanlah amalannya, rezekinya, ajalnya, dan bahagia atau sengsara.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Inilah kejadian yang sebenarnya terjadi, yaitu masing-masing kita telah mendapat jatah rezeki, yang tidak mungkin berkurang atau bertambah, oleh karena itu tidak ada alasan untuk khawatir akan kekurangan rezeki karena memiliki banyak anak. Masing-masing anak kita lahir dengan membawa jatah rezekinya sendiri-sendiri. Kita tidak akan mengurangi jatah rezeki anak kita, sebagaimana anak kita tidak akan mengurangi jatah rezeki kita. Bahkan tidaklah ada orang yang mati, melainkan bila jatah rezekinya telah ia dapatkan semuanya dengan sempurna:

“Sesungguhnya Ar Ruh Al Amin (Malaikat Jibril) telah membisikkan dalam kalbuku, bahwasanya tidaklah ada seorang jiwa pun yang mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, maka hendaknya kalian membaguskan permohonan.” (As Syafi’i, Ibnu Majah, Al Bazzar, At Thabrany, dan Al Baihaqi, dan dishahihkan oleh Al Albani)

Sehingga alasan program KB bertentangan atau bertujuan mengikis habis dan tuntas keimanan kepada Alloh, dan takdir bahwa rezeki telah diatur dan ditentukan oleh Alloh ta’ala.

Apalagi bila kita menelusuri sejarah awal mulanya program KB di dunia, dan penerapan program ini di berbagai negara. Program ini dicetuskan untuk membatasi dan menghambat pertumbuhan umat islam, sehingga melemahkan kekuatan mereka. Oleh karena itu program ini dengan keras ditentang oleh gereja, dan tidak diterapkan di kebanyakan negara-negara Nasrani dan Yahudi.

“Nikahilah olehmu wanita yang penyayang dan subur (dapat melahirkan banyak anak) karena aku akan berbangga-bangga dengan kalian di hadapan umat-umat lain.” (Ahmad, Abu Dawud dan disahihkan oleh Al Albani)
Jumlah kaum muslimin yang besar merupakan salah sumber kekuatan dalam menghadapi musuh-musuh agama Islam, oleh karena itu kita berkewajiban menumbuhkan generasi penerus dan pejuang yang memperjuangkan agama, baik melalui pendidikan aqidah, atau melalui memperbanyak jumlah generasi penerus umat islam.

Adapun teori yang mengatakan bahwa perkembangan manusia lebih cepat dibanding perkembangan ekonomi, sampai-sampai perbandingannya 1 berbanding 2 atau lebih, ini merupakan kedustaan belaka. Sebab bila kita amati, kenyataan masyarakat di sekitar kita, niscaya kita dapatkan bahwa teori ini dusta dan tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab betapa banyak jumlah orang kaya yang hartanya melimpah ruah, sedangkan orang-orang miskin jumlahnya lebih sedikit dibanding mereka. Akan tetapi karena orang-orang kaya tidak mau menjalankan kewajiban menyantuni orang miskin, baik melalui zakat yang wajib atau shadaqoh sunnah, maka terjadilah kesenjangan sosial yang tidak berbanding. Seandainya kewajiban zakat ditunaikan dengan baik, niscaya berbagai kemiskinan dan permasalahan terkait akan terkendalikan.

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa dan menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al A’raf: 156)

Pada ayat di atas Alloh menegaskan bahwa salah satu syarat diturunkannya rahmat dan kemurahan Alloh ta’ala ialah menunaikan zakat. Sehingga bila seluruh kaum muslimin yang memiliki kekayaan sudi menunaikan zakat mereka, pasti rahmat Alloh ta’ala akan senantiasa menyertai kehidupan kita. Dan bila rahmat Alloh telah menyertai kehidupan kita, niscaya kemiskinan dan berbagai problematika akan dapat dituntaskan.

Akan tetapi pada kenyataannya, kita enggan untuk menunaikan zakat, sehingga yang turun dari langit bukanlah rahmat dari Alloh, akan tetapi bencana dan petaka. Hujan yang turun dari langit bukannya membawa kebaikan, akan tetapi membawa bencana, berbagai bencana alam yang diakibatkan oleh hujan sering menimpa negeri kita. Dan di lain kesempatan, petaka kekeringan sering menimpa berbagai daerah di negeri kita, padahal, dahulu negeri kita terkenal sebagai negeri yang subur dan makmur. Fenomena ini seakan-akan membuktikan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidaklah mereka enggan menunaikan zakat harta mereka, melainkan mereka akan dihalangi untuk mendapatkan hujan dari langit, dan kalau bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan pernah diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah dan Al Baihaqi, dan disahihkan oleh Al Albani)

Kita semua dapat membayangkan berapa besar jumlah zakat yang akan terkumpul dari seluruh kaum muslimin, dan berapa banyak kaum fakir dan miskin yang akan terentaskan dari kemiskinan.

Dan bila kita, menginginkan kemakmuran yang sejati, maka hendaknya kita menyingkirkan ajaran syirik, kemaksiatan, dan menggantikannya dengan keimanan, tauhid dan amal saleh. Bila hal ini telah terwujud, maka kita -insya Alloh- akan dapat menggapai janji Alloh ta’ala berikut:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82)

Dan janji berikutnya:

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96)

Saudara-saudaraku semuanya, hendaknya kita senantiasa mengembalikan segala urusan kita kepada ajaran syariat kita, agar kita tidak terperangkap oleh jaring-jaring setan dan pengikutnya.

Sebelum bahasan ini saya tutup, saya akan mengingatkan para pembaca bahwa hakikat KB adalah seperti yang telah saya isyaratkan dengan ringkas di atas, yaitu membatasi jumlah anak. Dan telah saya jelaskan bahwa ini tidak boleh dan bertentangan dengan syariat Islam.

Akan tetapi walau demikian, para ulama’ membedakan antara membatasi dengan mengatur jarak kelahiran, dengan tujuan agar lebih ringan dalam mengatur dan merawat mereka, atau karena alasan medis, misalnya karena ada gangguan dalam rahim atau yang serupa, (ingat sekali lagi: bukan untuk membatasi jumlah anak).

Bila yang dilakukan adalah semacam ini, yaitu mengatur jarak kelahiran anak, dan dengan tujuan seperti disebutkan, maka para ulama’ membolehkannya, dan tidak haram. Karena tidak bertujuan untuk memutus keturunan, atau membatasi jumlahnya. Wallohu’ a’lam bisshowab.












[source]







KB (Keluarga Berencana, yaitu membatasi jumlah anak, hanya dua saja, atau tiga atau lainnya), suatu kata-kata manis, indah, nan menggiurkan, akan tetapi sebenarnya merupakan makar dan perangkap yang dipropagandakan oleh musuh-musuh Alloh, dan kemudian diikuti oleh banyak kaum muslimin yang kurang menyadari akan maksud dan kandungannya.
Untuk sedikit mengetahui batu di balik udang dari alasan program KB ini, maka saya harapkan kepada para pembaca untuk mengingat kemudian merenungkan alasan yang senantiasa dijadikan dasar bagi program ini: yaitu alasan takut tidak mampu membiayai anak-anak, dan takut tersibukkan dengan mendidik mereka. Saudara-saudaraku yang semoga senantiasa dirahmati Alloh, renungkanlah firman Alloh Ta’ala berikut ini:
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kamu.” (QS. Al Isra’: 31)
Saudara-saudaraku, kita sebagai umat yang beriman kepada Alloh ta’ala, Dzat Yang Maha Memberi rezeki, hendaknya juga percaya bahwa ketika Alloh menciptakan manusia, Alloh Ta’ala juga telah mempersiapkan untuknya segala yang akan ia dapatkan selama hidup di dunia, sehingga tidaklah ada sesuap makanan yang masuk ke dalam mulutnya, melainkan sebagian dari rezeki yang telah Alloh tuliskan untuknya. Alloh ta’ala tidak pernah menciptakan satu manusia pun tanpa jatah rezeki, bahkan semenjak kita masih di dalam perut ibu kita masing-masing, Alloh telah mengutus seorang malaikat untuk menuliskan jatah rezeki kita:
“Sesungguhnya penciptaan setiap orang dari kamu di dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk air mani, kemudian berubah menjadi segumpal darah semasa itu juga (selama 40 hari), kemudian menjadi segumpal daging semasa itu juga (selama 40 hari), kemudian Alloh mengutus seorang malaikat, dan ia diperintahkan dengan empat hal, dan dikatakan kepadanya: tuliskanlah amalannya, rezekinya, ajalnya, dan bahagia atau sengsara.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Inilah kejadian yang sebenarnya terjadi, yaitu masing-masing kita telah mendapat jatah rezeki, yang tidak mungkin berkurang atau bertambah, oleh karena itu tidak ada alasan untuk khawatir akan kekurangan rezeki karena memiliki banyak anak. Masing-masing anak kita lahir dengan membawa jatah rezekinya sendiri-sendiri. Kita tidak akan mengurangi jatah rezeki anak kita, sebagaimana anak kita tidak akan mengurangi jatah rezeki kita. Bahkan tidaklah ada orang yang mati, melainkan bila jatah rezekinya telah ia dapatkan semuanya dengan sempurna:
“Sesungguhnya Ar Ruh Al Amin (Malaikat Jibril) telah membisikkan dalam kalbuku, bahwasanya tidaklah ada seorang jiwa pun yang mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, maka hendaknya kalian membaguskan permohonan.” (As Syafi’i, Ibnu Majah, Al Bazzar, At Thabrany, dan Al Baihaqi, dan dishahihkan oleh Al Albani)
Sehingga alasan program KB bertentangan atau bertujuan mengikis habis dan tuntas keimanan kepada Alloh, dan takdir bahwa rezeki telah diatur dan ditentukan oleh Alloh ta’ala.
Apalagi bila kita menelusuri sejarah awal mulanya program KB di dunia, dan penerapan program ini di berbagai negara. Program ini dicetuskan untuk membatasi dan menghambat pertumbuhan umat islam, sehingga melemahkan kekuatan mereka. Oleh karena itu program ini dengan keras ditentang oleh gereja, dan tidak diterapkan di kebanyakan negara-negara Nasrani dan Yahudi.
“Nikahilah olehmu wanita yang penyayang dan subur (dapat melahirkan banyak anak) karena aku akan berbangga-bangga dengan kalian di hadapan umat-umat lain.” (Ahmad, Abu Dawud dan disahihkan oleh Al Albani)
Jumlah kaum muslimin yang besar merupakan salah sumber kekuatan dalam menghadapi musuh-musuh agama Islam, oleh karena itu kita berkewajiban menumbuhkan generasi penerus dan pejuang yang memperjuangkan agama, baik melalui pendidikan aqidah, atau melalui memperbanyak jumlah generasi penerus umat islam.
Adapun teori yang mengatakan bahwa perkembangan manusia lebih cepat dibanding perkembangan ekonomi, sampai-sampai perbandingannya 1 berbanding 2 atau lebih, ini merupakan kedustaan belaka. Sebab bila kita amati, kenyataan masyarakat di sekitar kita, niscaya kita dapatkan bahwa teori ini dusta dan tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab betapa banyak jumlah orang kaya yang hartanya melimpah ruah, sedangkan orang-orang miskin jumlahnya lebih sedikit dibanding mereka. Akan tetapi karena orang-orang kaya tidak mau menjalankan kewajiban menyantuni orang miskin, baik melalui zakat yang wajib atau shadaqoh sunnah, maka terjadilah kesenjangan sosial yang tidak berbanding. Seandainya kewajiban zakat ditunaikan dengan baik, niscaya berbagai kemiskinan dan permasalahan terkait akan terkendalikan.
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa dan menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al A’raf: 156)
Pada ayat di atas Alloh menegaskan bahwa salah satu syarat diturunkannya rahmat dan kemurahan Alloh ta’ala ialah menunaikan zakat. Sehingga bila seluruh kaum muslimin yang memiliki kekayaan sudi menunaikan zakat mereka, pasti rahmat Alloh ta’ala akan senantiasa menyertai kehidupan kita. Dan bila rahmat Alloh telah menyertai kehidupan kita, niscaya kemiskinan dan berbagai problematika akan dapat dituntaskan.
Akan tetapi pada kenyataannya, kita enggan untuk menunaikan zakat, sehingga yang turun dari langit bukanlah rahmat dari Alloh, akan tetapi bencana dan petaka. Hujan yang turun dari langit bukannya membawa kebaikan, akan tetapi membawa bencana, berbagai bencana alam yang diakibatkan oleh hujan sering menimpa negeri kita. Dan di lain kesempatan, petaka kekeringan sering menimpa berbagai daerah di negeri kita, padahal, dahulu negeri kita terkenal sebagai negeri yang subur dan makmur. Fenomena ini seakan-akan membuktikan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tidaklah mereka enggan menunaikan zakat harta mereka, melainkan mereka akan dihalangi untuk mendapatkan hujan dari langit, dan kalau bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan pernah diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah dan Al Baihaqi, dan disahihkan oleh Al Albani)
Kita semua dapat membayangkan berapa besar jumlah zakat yang akan terkumpul dari seluruh kaum muslimin, dan berapa banyak kaum fakir dan miskin yang akan terentaskan dari kemiskinan.
Dan bila kita, menginginkan kemakmuran yang sejati, maka hendaknya kita menyingkirkan ajaran syirik, kemaksiatan, dan menggantikannya dengan keimanan, tauhid dan amal saleh. Bila hal ini telah terwujud, maka kita -insya Alloh- akan dapat menggapai janji Alloh ta’ala berikut:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82)
Dan janji berikutnya:
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96)
Saudara-saudaraku semuanya, hendaknya kita senantiasa mengembalikan segala urusan kita kepada ajaran syariat kita, agar kita tidak terperangkap oleh jaring-jaring setan dan pengikutnya.
Sebelum jawaban ini saya tutup, saya akan mengingatkan para pembaca bahwa hakikat KB adalah seperti yang telah saya isyaratkan dengan ringkas di atas, yaitu membatasi jumlah anak. Dan telah saya jelaskan bahwa ini tidak boleh dan bertentangan dengan syariat Islam. Akan tetapi walau demikian, para ulama’ membedakan antara membatasi dengan mengatur jarak kelahiran, dengan tujuan agar lebih ringan dalam mengatur dan merawat mereka, atau karena alasan medis, misalnya karena ada gangguan dalam rahim atau yang serupa, (ingat sekali lagi: bukan untuk membatasi jumlah anak). Bila yang dilakukan adalah semacam ini, yaitu mengatur jarak kelahiran anak, dan dengan tujuan seperti disebutkan, maka para ulama’ membolehkannya, dan tidak haram. Karena tidak bertujuan untuk memutus keturunan, atau membatasi jumlahnya. Wallohu’ a’lam bisshowab.


Read more about FIKIH by www.konsultasisyariah.com

Thursday, 1 November 2012

ketaatan terpuji dan ketaatan tercela

Kata taat secara umum selalu dikaitkan dengan kebaikan. Karena istilah ini biasanya diasosiasikan oleh kebanyakan masyarakat sebagai bukti baiknya keber-agama-an seseorang. Semakin beragama seseorang semakin ia disebut sebagai “orang yang taat”.

Benarkah setiap orang yang disebut taat pasti merupakan bukti bagusnya ia dalam kehidupan beragama? Atau lebih khususnya lagi, benarkah orang yang disebut taat selalu merupakan seorang yang pasti bagus ketaqwaannya kepada Allah سبحانه و تعالى ?

Benarkah seorang karyawan yang selalu taat kepada pimpinan perusahaannya pasti seorang karyawan yang baik? Benarkah seorang anak yang selalu taat kepada orang-tuanya pasti merupakan seorang anak yang baik? Benarkah seorang anggota organisasi yang taat kepada pimpinan organisasinya pasti merupakan seorang anggota yang baik?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas sangat tergantung kepada pengertian “karyawan yang baik” menurut siapa? “Anak yang baik” menurut siapa? Dan “anggota yang baik” menurut siapa?

Jika pengertian “karyawan yang baik” tersebut tergantung sepenuhnya kepada si pimpinan perusahaan, maka pastilah karyawan yang selalu taat kepadanya dipandang baik olehnya. Demikian pula, jika pengertian “anak yang baik” tersebut tergantung sepenuhnya kepada orang-tua si anak tadi, maka pastilah anak yang selalu taat kepadanya dipandang baik olehnya. Begitu pula, jika pengertian “anggota yang baik” tersebut tergantung sepenuhnya kepada si pimpinan organisasi, maka pastilah anggota yang selalu taat kepada dirinya dipandang baik olehnya.

Di sinilah rahasianya mengapa Islam memiliki pembahasan khusus mengenai ketaatan. Bahkan Islam menempatkan urusan ini ke dalam perkara paling fundamental dalam kehidupan seorang muslim. Urusan ketaatan sangat berkaitan erat dengan kejernihan aqidah seorang muslim. Makanya Islam memandang bahwa ada dua jenis ketaatan: (1) Ketaatan Terpuji dan (2) Ketaatan Tercela.

sebelum lanjut..ada baiknya baca awas durhaka tanpa sadar agar bahasan tentang taat anak pada orang tua jadi lebih jelas..


 


Ketaatan terpuji yaitu ketika seorang karyawan perusahaan, anak atau anggota organisasi mematuhi pimpinan atau orang-tuanya semata-mata karena ketaatannya kepada Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم . Artinya, ia hanya mau mentaati pimpinan atau orang-tuanya ketika ia yakin benar bahwa apa yang mereka suruh adalah benar-benar dalam rangka mentaati Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم . 

Orang yang ketaatannya terpuji sangat sensitif dan teliti terhadap setiap instruksi yang disampaikan pimpinan dan orang-tuanya. Kepercayaan dan rasa hormatnya kepada pimpinan atau orang-tua tidak menyebabkan dirinya menjadi harus taat secara membabi buta kepada apapun perintah pimpinan atau orang-tuanya. Sebab ia tahu benar bahwa siapapun bisa keliru dan digoda syetan sehingga mengeluarkan perintah yang ternyata bertentangan dengan ketentuan Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم .

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ
بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
“Dan jika keduanya (orang-tuamu) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS Lukman 15)

Oleh karenanya di dalam Islam setiap muslim diharuskan untuk memiliki pengetahuan mengenai ajaran Islam sehingga dengan pengetahuan itulah ia dapat senantiasa menilai apakah sebuah instruksi patut ia segera laksanakan atau sebaliknya ia kritisi dan tidak taati. Malah idealnya, jika sanggup, ia justeru beri masukan atau menasehati pimpinannya, bahkan orang-tuanya, agar tidak memaksa dirinya melaksanakan perintah batil tersebut. Lebih baik lagi jika ia berhasil meyakinkan pimpinan atau orang-tuanya untuk meninjau-ulang sampai mencabut perintah batil tadi. Akhirnya si pimpinan atau orang-tua menjadi sadar dan bertaubat akan kekeliruannya.

Seorang sahabat bernama Saad bin Abi Waqqas radhiyallahu ‘anhu masuk Islam ketika usianya masih remaja belia. Saat itu tahapan da’wah di kota Mekkah masih dalam tahapan sirriyyatud-da’wah (da’wah sembunyi-sembunyi). Setiap yang masuk Islam masih harus menyembunyikan keIslamannya.

Demikian pula halnya dengan Saad. Namun, ketika ia sampai rumah ternyata ibunya yang merupakan seorang wanita musyrik fanatik, telah mendapat bocoran bahwa puteranya menjadi pengikut Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Langsung ibunya menginterogasi Saad: “Benarkah berita yang kuterima bahwa kau, Saad, sudah menjadi pengikut agama Muhammad dan meninggalkan agama nenek moyang kita, yaitu menyembah berhala?!”

Maka Saad tidak dapat bersembunyi lagi. Iapun menjawab: “Benar, wahai ibu.” Maka ibunya menjadi sangat murka. “Kalau begitu, Saad, sekarang juga ibu perintahkan kau agar segera meninggalkan agama Muhammad yang sesat itu dan kembali kepada agama nenek-moyang kita…! Jika tidak mau, maka ibu akan mogok makan hingga kau mentaatiku…!” Laa haula wa laa quwwata illa billaah…!

Maka Saad segera konsultasi kepada Rasulullah صلى الله عليه و سلم menceritakan apa yang ia alami. “Bagaimana nasibku ini, ya Rasulullah?” Maka Nabi صلى الله عليه و سلم balik bertanya: “Engkau sendiri bagaimana Saad? Apa pendapatmu mengenai keadaan ini?” Saadpun menjawab: “Demi Allah, hatiku sudah mantap dalam iman dan islam, ya Rasulullah. Dan akalku mengatakan bahwa mustahil bagiku untuk harus kembali menyembah berhala yang tidak dapat sedikitpun memberi manfaat atau mudharat bagi hidupku…!”

Maka Nabipun berkata: “Jika demikian, Saad, berdoalah kepada Allah سبحانه و تعالى semoga ibumu mendapat hidayah dari-Nya. Namun, ingat, wahai Saad, birrul-walidain (berbuat baiklah kepada orang-tuamu)…”

Maka sejak saat itu Saad-pun menampilkan dirinya sebagai seorang anak yang berbakti sebaik mungkin kepada orang-tuanya. Apapun yang disuruh orang-tuanya pasti ia kerjakan. Bahkan hal-hal yang belum disuruhpun, asalkan itu dapat menyenangkan hati orang-tuanya, juga ia kerjakan segera.

Hanya satu hal yang tidak mau ia kerjakan: memenuhi permintaan ibunya agar ia murtad kembali kepada agama kemusyrikan.

Setelah berlalu beberapa waktu, ibunyapun akhirnya memanggil Saad: “Bagaimana Saad, apakah kau sudah memenuhi permintaan ibu? Meninggalkan agama Muhammad صلى الله عليه و سلم dan kembali kepada agama nenek-moyang kita?”



Maka, pada saat itu Saad memperoleh ilham dari Allah سبحانه و تعالى . Ia lalu menjawab: “Demi Allah, yang jiwaku di dalam genggamanNya. Jika ibu mogok makan hingga nyawa ibu melayang lalu mati, lalu diganti Allah سبحانه و تعالى dengan nyawa baru dan itupun melayang, lalu diganti Allah سبحانه و تعالى dengan nyawa baru dan itu juga melayang, bahkan berratus nyawa keluar masuk tubuh ibu, aku tidak akan tinggalkan agama Muhammad صلى الله عليه و سلم yang sudah kuyakini kebenarannya itu…!”

Mendengar jawaban tegas puteranya seraya mengenang bahwa semenjak menjadi muslim, Saad telah berubah menjadi anak yang luar biasa baiknya dan berbaktinya kepada orang-tua, maka hati ibunyapun luluh sehingga ia berkata: “Jika demikian, Saad, tolong ajarkan ibu bagaimana caranya menjadi seorang muslim?” Subhaanallah…!



 

Adapun ketaatan tercela ialah ketika seorang karyawan perusahaan, anak atau anggota organisasi mematuhi pimpinan atau orang-tuanya semata-mata karena ia meyakini prinsip bahwa mereka harus ditaati, apapun isi perintahnya, bagaimanapun keadaannya, suka maupun tidak suka. Bahkan mereka membanggakan ketaatan membabi-buta tersebut.

Barangsiapa selalu mentaati pimpinan atau orang-tuanya, baik dalam urusan yang benar ataupun batil di mata Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم , maka si karyawan, anak atau anggota tersebut dipandang sebagai “orang yang taat” dan patut dihormati bahkan diberikan penghargaan, pujian dan hadiah.

Dan untuk menyempurnakan penilaian tadi, si karyawan atau anak atau anggota tersebut menyerahkan penghormatan dan kepercayaannya kepada pimpinan atau orang-tua sampai ke derajat dimana jika suatu keraguan muncul di dalam akal atau hatinya terhadap suatu perintah, maka ia berkata kepada dirinya sendiri: “Sudahlah, tidak usah diperdebatkan lagi, para pimpinan kita kan jauh lebih tahu daripada kita, kita kan jauh di bawah mereka. Sudahlah, kita taat dan tsiqoh (percaya) sajalah kepada mereka! Tentu mereka jauh lebih faham daripada kita. Tidak mungkin apa yang mereka suruh itu buruk buat kita, mereka pasti sudah mempertimbangkannya masak-masak. Kalau ketaatan kita harus selalu dilandasi pemahaman, maka itu hal biasa. Tapi kalau kita tetap taat dan tsiqoh tanpa memahami landasan perintah pimpinan, barulah itu istimewa.”

Sehingga bisa terjadi bahwa seorang pemimpin organisasi da’wah menyuruh para anggotanya untuk memilih orang fasik menjadi pemimpin di tengah masyarakat. Kemudian para anggotanya mentaati sepenuhnya perintah batil tersebut. Padahal track record (jejak-rekam) orang fasik tersebut sudah jelas memusuhi Islam dan da’wah selama ini. Tetapi karena para anggota organisasi sedemikian terbiasa dengan ketaatan membabi-buta, merekapun memenuhi permintaan pimpinan organisasi. Ini merupakan contoh ketaatan tercela yang sangat jelas.



Jadi, akhirnya mereka tidak pernah mengasah otaknya untuk bertanya, adakah sebenarnya perintah pimpinan atau orang-tuanya selaras atau tidak dengan perintah Allah سبحانه و تعالى dan rasulNya صلى الله عليه و سلم ? Sebab itu sudah tidak menjadi persoalan lagi. Yang menjadi persoalan ialah bagaimana memperoleh penilaian positif, pengakuan, penghargaan, pujian dari pimpinan atau orang-tua dengan jalan selalu mentaati apapun yang mereka suruh.

Akhirnya, orang-orang seperti ini telah mengabaikan mengejar ridha Allah سبحانه و تعالى sebagai tujuan utama kehidupan. Sebab bagi mereka yang penting adalah mengejar ridha pimpinan atau ridha orang-tua, dengan keyakinan bahwa jika pimpinan atau orang-tua sudah ridha pastinyalah Allah سبحانه و تعالى juga meridhai ketaatannya tersebut. Memang benar terdapat hadits Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم yang berbunyi:

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
"Ridha Allah terdapat pada ridha seorang bapak, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya seorang bapak." (TIRMIDZI – 1821)

من أطاعني فقد أطاع الله و من عصاني فقد عصى الله
و من يطع الأمير فقد أطاعني و من يعص الأمير فقد عصاني
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Barangsiapa mentaati aku, ia mentaati Allah سبحانه و تعالى dan barangsiapa mendurhakaiku, maka ia telah mendurhakai Allah سبحانه و تعالى . Barangsiapa mentaati pemimpin, maka ia mentaati aku dan barangsiapa mendurhakai pemimpin, maka ia mendurhakaiku.” (HR Ibnu Khuzaimah)

Kedua hadits di atas merupakan hadits shahih. Namun tentunya kita tidak boleh melihatnya secara terpisah dari ayat-ayat Allah سبحانه و تعالى dan hadits-hadits Nabi صلى الله عليه و سلم lainnya. Sehingga Allah سبحانه و تعالى berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي
مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا
“Dan jika keduanya (orang-tuamu) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (QS Lukman 15)

Ketika orang-tua sudah memerintahkan anak agar menjadi hamba yang musyrik sudah barang tentu si anak tidak lagi wajib mentaati orang-tuanya, bahkan si anak menjadi haram mentaati orang-tuanya. Sebab Allah سبحانه و تعالى tidak pernah ridha kepada orang yang mempersekutukan diriNya dengan apapun. Bahkan dosa syirik merupakan dosa yang tidak terampuni..!

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ
لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa 48)

Jadi, walaupun Nabi صلى الله عليه و سلم menyatakan bahwa ridha Allah سبحانه و تعالى terdapat pada ridha orang-tua, tetapi mustahil seorang anak akan diridhai Allah سبحانه و تعالى ketika ia mentaati perintah orang-tuanya untuk berbuat dosa syirik..!

Demikian pula dengan ketaatan kepada pimpinan. Kita harus selalu bersikap kritis dan teliti jangan sampai ketaatan kepada pimpinan menyebabkan hilangnya keridhaan Rasulullah صلى الله عليه و سلم bahkan keridhaan Allah سبحانه و تعالى ? Mungkinkah itu terjadi? Mungkin sekali. Karena itulah Rasulullah صلى الله عليه و سلم sampai bersabda:

سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ
وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ
قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا
“Akan muncul pemimpin-pemimpin yang kalian kenal, tetapi kalian tidak menyetujuinya.Orang yang membencinya akan terbebaskan (dari tanggungan dosa). Orang yang tidak menyetujuinya akan selamat. Orang yang rela dan mematuhinya, tidak terbebaskan (dari tanggungan dosa). Para sahabat langsung menyelak: "Bagaimana jika kita perangi saja?" Nabi صلى الله عليه و سلم menjawab: "Tidak! Selama mereka masih shalat."” (MUSLIM 3445)

Bayangkan, dengan kriteria “masih shalat” berarti mereka adalah pemimpin yang berstatus resmi muslim. Tetapi Nabi صلى الله عليه و سلم malah mengatakan “Orang yang membencinya akan terbebaskan (dari tanggungan dosa). Orang yang tidak menyetujuinya akan selamat. Orang yang rela dan mematuhinya, tidak terbebaskan (dari tanggungan dosa).” Jadi, jangankan tidak mentaatinya, malah Nabi صلى الله عليه و سلم justeru menjamin kebaikan jika kita membenci dan tidak menyetujui pemimpin seperti itu. Sedangkan orang yang malah rela dan mematuhi pemimpin seperti itu berarti Nabi صلى الله عليه و سلم malah berlepas diri dari tanggungan dosa yang dipikul karena mentaatinya secara taqlid (membabi-buta).



Pantas bila Allah سبحانه و تعالى ketika menyuruh orang-orang beriman agar mentaati para pemimpin hendaknya memperhatikan apakah pemimpin tersebut senantiasa menjadikan Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم sebagai rujukan utama dalam penyelesaian berbagai perselisihan. Sebab, hanya dengan memenuhi kriteria itu sajalah seorang pemimpin layak ditaati oleh ummat Islam.

Namun jika tidak, maka sudah sepantasnya pemimpin itu tidak ditaati lagi. Mengapa? Karena itu berarti bahwa pemimpin tersebut menghendaki untuk menyelesaikan masalah dengan menjadikan selain Allah سبحانه و تعالى dan rasulNya صلى الله عليه و سلم sebagai rujukan utama.

Dan itu berarti pemimpin tersebut mengarahkan ummat yang ia pimpin untuk mengabaikan alias mendurhakai Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم dan bahkan menyuruh pengikutnya untuk mentaati selain Allah سبحانه و تعالى yang tidak lain adalah thaghut…! Demikianlah Allah سبحانه و تعالى jelaskan di dalam KitabNya. Jika tidak kembali kepada aturan dan hukum Allah سبحانه و تعالى berarti kembalinya kepada hukum thaghut.

Pilihan hanya dua: kembali kepada Allah سبحانه و تعالى atau kepada thaghut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (para pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.(QS An-Nisa 59-60)

Dan jika seseorang mentaati pemimpin semata karena meyakini bahwa mentaati pemimpin merupakan kebaikan yang harus dilakukan tanpa peduli apapun landasan perintahnya, tanpa sikap kritis dan teliti, tanpa sadar bahwa ternyata pemimpin malah mengajak untuk mendekati bahkan mentaati thaghut, maka orang tersebut sungguh berada dalam bahaya. Bahaya bukan sekedar di dunia, tetapi bahaya di akhirat. Itulah bahaya yang sejati dan abadi. Wa na’udzu billaahi min dzaalika…! 

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ
يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا
وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا
فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا رَبَّنَا آَتِهِمْ
ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (AS Al-Ahzab 66-68)



[source]

awas jadi durhaka tanpa sadar!

 

 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tuamu dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra’: 23)

“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka.” [QS. Al-Isra' (17): 23]
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Ada tiga ayat yang diturunkan dan dikaitkan dengan tiga hal, tidak diterima salah satunya jika tidak dengan yang dikaitkannya:
1.     Firman Allah Ta’ala, `Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul’. Maka barangsiapa taat kepada Allah namun tidak taat kepada Rasul, ketaatannya tidak diterima.
2.    Firman Allah Ta’ala, `Dan dirikanlah shalat serta tunaikan zakat’. Maka barangsiapa melakukan shalat namun tidak mengeluarkan zakat, tidaklah diterima.
3.    Firman Allah Ta’ala, Agar kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.’ Barangsiapa bersyukur kepada Allah namun tidak bersyukur kepada kedua orang tua, tentu saja tidak diterima hal itu.
 
Oleh karena itulah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Keridhaan Allah ada di dalam keridhaan kedua orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua. (Diriwayatkan Tirmidzi dari hadits Abdullah bin Amr, hadits ini diperkuat oleh hadits Abu Hurairah).


sering kita belajar tentang berbakti pada orang tua..tapi adakah telah sempurna??
klo liat referensi di awal tadi..khawatir dunk klo ternyata kita merasa berbakti padahal ternyata ada hal yg justru terkatagorikan perbuatan durhaka pada ortu...wehhh..
never never lah yaa.. ^_^

so..g salah juga kan kita bahas tentang durhaka nya...harap-harap lebih berhati2 biar g sampe jd durhaka tanpa sadar..

cekidot.. ^_^/

***

‘Uquuqul walidain (durhaka kepada orang tua) adalah dosa besar. Karena itu, Rasulullah saw. –seperti yang dikutip oleh Ibnu Al-Atsir dalam kitabnya An-Nihaayah—melarang perbuatan durhaka kepada kedua orangtua.

Seseorang dikatakan ‘aqqa waalidahu, ya’uqquhu ‘uqaaqan, fahuwa ‘aaqun jika telah menyakiti hati orangtuanya, mendurhakainya, dan telah keluar darinya. Kata ini merupakan lawan dari kata al-birru bihi (berbakti kepadanya).
Yang dimaksud dengan al-’uquuq (durhaka) adalah mematahkan “tongkat” ketaatan dan “memotong” (memutus) tali hubungan antara seorang anak dengan orang tuanya.

Jadi, yang dimaksud dengan perbuatan durhaka kepada kedua orang tua adalah mematahkan “tongkat” ketaatan kepada keduanya, memutuskan tali hubungan yang terjalin antara orang tua dengan anaknya, meninggalkan sesuatu yang disukai keduanya, dan tidak menaati apa yang diperintahkan atau diminta oleh mereka berdua.

Sebesar apa pun ibadah yang dilakukan oleh seseorang hamba, itu semua tidak akan mendatangkan manfaat baginya jika masih diiringi perbuatan durhaka kepada kedua orang tuanya. Sebab, Allah swt. menggantung semua ibadah itu sampai kedua orang tuanya ridha.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa dia berkata, “Tidaklah seorang muslim memiliki dua orang tua muslim, (kemudian) dia berbakti kepada keduanya karena mengharapkan ridha Allah, kecuali Allah akan membukakan dua pintu untuknya –maksudnya adalah pintu surga–. Jika dia hanya berbakti kepada satu orang tua (saja), maka (pintu yang dibukakan untuknya) pun hanya satu. Jika salah satu dari keduanya marah, maka Allah tidak akan meridhai sang anak sampai orang tuanya itu meridhainya.” Ditanyakan kepada Ibnu ‘Abbas, “Sekalipun keduanya telah menzaliminya?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Sekalipun keduanya telah menzaliminya.”

Oleh karena itu ketika ada seseorang yang memaparkan kepada Rasulullah saw. tentang perbuatan-perbuatan ketaatan (perbuatan-perbuatan baik) yang telah dilakukannya, maka Rasulullah saw. pun memberikan jawaban yang sempurna yang dikaitkan dengan satu syarat, yaitu jika orang itu tidak durhaka kepada kedua orang tuanya.
.: Bentuk-bentuk Perbuatan Durhaka
1.    Tidak memberikan nafkah kepada orang tua bila mereka membutuhkan.
2.    Tidak melayani mereka dan berpaling darinya. Lebih durhaka lagi bila menyuruh orang tua melayani dirinya.
3.    Mengumpat kedua orang tuanya di depan orang banyak dan menyebut-nyebut kekurangannya.
4.    Mencaci dan melaknat kedua orang tuanya.
5.    Menajamkan tatapan mata kepada kedua orang tua ketika marah atau kesal kepada mereka berdua karena suatu hal.
6.    Membuat kedua orang tua bersedih dengan melakukan sesuatu hal, meskipun sang anak berhak untuk melakukannya. Tapi ingat, hak kedua orang tua atas diri si anak lebih besar daripada hak si anak.
7.    Malu mengakui kedua orang tuanya di hadapan orang banyak karena keadaan kedua orang tuanya yang miskin, berpenampilan kampungan, tidak berilmu, cacat, atau alasan lainnya.
8.    Enggan berdiri untuk menghormati orang tua dan mencium tangannya.
9.    Duduk mendahului orang tuanya dan berbicara tanpa meminta izin saat memimpin majelis di mana orang tuanya hadir di majelis itu. Ini sikap sombong dan takabur yang membuat orang tua terlecehkan dan marah.
10. Mengatakan “ah” kepada orang tua dan mengeraskan suara di hadapan mereka ketika berselisih.
.: hukumannya di dunia dan hari Kiamat.

>>Ka’abul Ahbar Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah menyegerakan kehancuran bagi seorang hamba jika ia durhaka kepada orang tuanya. Kehancuran itu merupakan siksaan baginya. Dan sesungguhnya Allah menambah umur orang yang berbakti kepada orang tua agar bertambah pengabdian dan kebaikannya kepada mereka”
>>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada empat orang yang Allah harus tidak memasukkan mereka ke dalam surga dan tidak mereka mencicipi kenikmatannya: orang yang kecanduan terhadap khamr, pemakan riba, orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, dan orang yang durhaka kepada kedua orang tua kecuali jika mereka telah bertaubat” (Diriwayatkan Hakim dengan sanad shahih, namun AI-Mundziri mengatakan bahwa pada sanad hadits ini terhadap Ibrahim bin Khaitsam yang haditsnya matruk, tertinggal dan tidak diakui).
>>Seseorang datang kepada Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu dan berkata, Hai Abu Darda’, sesungguhnya aku menikahi seorang wanita dan ibuku menyuruhku untuk menceraikannya. Abu Darda’ berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda. “Orang tua adalah pintu tengahnya surga, jika kamu mau, hilangkan saja pintu atau jagalah”.

>>Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga doa yang terkabulkan dan tidak ada keraguan padanya: doa orang yang didzalimi, doa orang yang bepergian, dan doa tidak baik orang tua terhadap anaknya”(Diriwayatkan Tirmidzi, Abu Dawud, dan Thabrani).
>>Juga diceritakan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda, “Pada malam ketika aku diisra’ kan aku melihat beberapa kaum yang bergelantungan pada dahan-dahan dari api. Aku bertanya, Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mencaci ayah dan ibu mereka di dunia”

>>Diriwayatkan bahwa barangsiapa mencaci kedua orang tuanya akan didatangkan kepadanya di dalam kuburan bara dari api sejumlah setiap titik air yang turun dari langit ke bumi. Juga diriwayatkan bahwa jika seseorang durhaka kepada orang tuanya. Nanti setelah dikubur, ia akan dihimpit kuburan itu hingga tulang-tulang rusuknya berhimpit.

>>Yang paling keras siksanya pada hari Kiamat nanti tiga orang: Musyrik, pezina, dan yang durhaka kepada orang tua.

so..telah bebaskah diri dari radiasi durhaka??






dari banyak sumber