Showing posts with label hati. Show all posts
Showing posts with label hati. Show all posts

Thursday, 2 May 2013

KARENA ENGKAU BEGITU BERHARGA

Kepada setiap gadis yang membiarkan seorang pemuda berbicara kepadanya dengan pembicaraan yang diharamkan oleh Allah…
Kepada setiap gadis yang pergi keluar bersama seorang pemuda yang tidak ada ikatan halal diantara mereka…
Kepada setiap gadis yang berkhianat terhadap kepercayaan keluarganya…
Kepada setiap gadis yang tak ternilai harganya, namun dia membuat murah harga dirinya…
Kepada setiap gadis yang memberikan hatinya kepada seorang pemuda yang bukan suaminya… dia masuk kedalam kehidupan rumahtangga dengan hati yang berkeping-keping karena teringat mantan kekasihnya…
Kepada setiap gadis yang memberikan sesuatu kepada seorang pemuda yang bukan haknya, atas nama cinta…

Saudariku tercinta …
Dengarkanlah aku dengan segenap jiwa-ragamu…
Janganlah engkau memperhatikan pemikiran beracun tentang cinta sebelum pernikahan, dengan alasan: "agar kami saling mengenal lebih dekat sebelum menikah".
Ketika seorang pemuda melamar seorang gadis, Itulah waktu untuk saling mengenal…

Allah menciptakanmu & mengetahui bahwa engkau mempunyai hati yang lembut & ringan bagaikan kupu-kupu…
Allah tidak menginginkan hati yang indah tersebut merasa lelah…
Oleh karena itu, Dia melarang adanya ikatan apapun sebelum pernikahan…

Mengapa Allah melarang kita? Apakah Dia ingin menyiksa kita sehingga mengharamkan kita dari rasa cinta?
Allah sungguh jauh dari sifat seperti itu…
Allah hanya ingin menjaga hati yang indah itu untuk seorang suami yang dapat menjaga & memeliharanya, serta mengetahui betapa berharganya hatimu…
Bukankah Allah penciptamu sehingga Dia lebih tahu daripada dirimu sendiri, tentang apa yang terbaik untukmu?
Dia lebih mencintaimu daripada kecintaan orangtuamu kepadamu, lalu mengapa engkau menentang-Nya?
Mengapa engkau tidak meninggalkan apa yang Allah larang?

Ketahuilah bahwa yang haram itu dihiasi dengan keindahan…
Namun Allah membalasnya dengan kepedihan & penyesalan yang besar…
Adapun sesuatu yang halal, maka itu lebih indah & lebih manis…
Akan datang waktunya … seseorang yang sangat mencintaimu & engkau sangat mencintainya…
Dan akan ada diantara kalian ikatan yang kuat yang menjagamu & memelihara hak-hakmu…
Namun hal yang haram tidak mempunyai hak atasmu…

Alangkah indahnya hatimu tersampul rapi, dan hanya suamimu yang akan membukanya, yang dengan susah payah dia mendapatkanmu…
Engkau berhak mendapatkannya, wahai saudariku… karena engkau begitu berharga…

Janganlah engkau memetik buah sebelum waktunya…
Jika kau petik buah sebelum waktunya, maka demi Allah… engkau tidak akan mendapatkan rasa manis yang sesungguhnya…
Dan saya"ng sekali… engkau tidak dapat mengembalikan buah tersebut kepada pohonnya…
ﻤﻦ ﺗﻌﺠﻞ ﺷﻴﺌﺎً ﻗﺒﻞ ﺃﻭﺍﻧﻪ ﻋﻮﻗﺐ ﺑﺤﺮﻣﺎﻧﻪ
Barangsiapa yang tergesa-gesa untuk mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, maka dia diberi sanksi dengan tidak mendapatkan apa yang dia inginkan…





http://sphotos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/943700_470613876351672_753172556_n.jpg

Monday, 1 April 2013

Akhwat Hebat


Hasil Retweeted Bertahajudlah!! (@tahajud):

#AkhwatHebat Lima waktu tak pernah lewat | di awal waktu, jarang terlambat | sebgai bukti Muslimah yg taat (@Andre_Hazz)

#AkhwatHebat Tidak sedikit yg jago silat | fikir 2x kalau mendekat | bisa2 nanti kena sikat | Ciiiaaaaatt.!! :D (@Andre_Hazz)

#AkhwatHebat aktifitasnya slalu padat | ngisi kajian sampai mimpin rapat | kadang juga ngajar privat | smua dilakukan dgn semangat (@Andre_Hazz)

#AkhwatHebat Lisannya dihiasi dgn Shalawat | berharap kan mendapat syafaat | kelak nanti di akhirat (@Andre_Hazz)#AkhwatHebat tak pernah lupa silaturahmi ke sahabat | skedar say hello ataupun kasih nasehat | biar Ukhuwah makin erat (@Andre_Hazz)

#AkhwatHebat Tak perduli hujan Lebat | Panas terik menyengat | kalau sudah urusan dakwah, pasti semangat (@Andre_Hazz)

#AkhwatHebat Saat ada masalah mendekat | dirinya tetap tegar dan kuat | karena dihatinya ada iman yg tlah melekat. (@Andre_Hazz)

#AkhwatHebat slalu berhati2 dlm berbuat | karna dia yakin ada اللّهُ yg Maha Melihat | dan malaikat yg slalu mencatat (@Andre_Hazz)

#AkhwatHebat Cantiknya karna tertutup aurat | Berseri krn Syahadat | Kaya krn Brzakat | Lembut krn Munajat | & Sehatnya krna Shalat (@Andre_Hazz)

Sunday, 10 February 2013

Jodoh Si Mandiri




ehem
udah lama yua g 'nyampah' di mari eheh3
sedikit terabaikan coz lg getting crazzy jd tumblrian..

ehem ehem
barusan nyimak petuah bijak-nya pak Mario Teguh di MTGW..
entah sejak kapan yaaa..ini acara jd lebih sering bahas masalah percintaan..



ahhh g penting juga mo temanya apa..toh tema cinta juga udh mutlak jd tema yg slalu update dengan berbagai warna warni nya yg kadang semarak kadang juga suram kelam..ee

ghina mencatat satu pesan
 wanita yg paling pantas dimiliki itu : tegas..menghargai diri sendiri..mandiri dan sukses tanpa lelaki..

ohooh3
ini punya esensi yang sama dengan ramalan cinta Ran-mouri di serial Detektif Conan vol. 68
untuk merebut hati laki-laki cerdas, engkau hanya perlu menjadi diri mu sendiri..hati-hati karena laki-laki ini akan segera tau kalau kau hanya berpura-pura menjadi gadis yang manis..dia akan segera mengetahui keluguan mu..percaya pada diri sendiri dan terus berusaha..perasaanmu akan tersampaikan padanya..

yupz!
Suka karna akhirnya 2 kutipan tersebut memenangkan mereka yg mandiri..like me..
dan beberapa sahabat yang super mandiri lainnya..ohoho3

Yaaa..secara dulu itu pernah ada teman akhawat yang gagal ta’aruf lantaran si akhawat terkesan lebih mandiri..mpe tu mbak bilang gini ke ghina gara2 ghina niat beli rumah kreditan..

“dek..g usah terlalu mandiri..ikhwan g suka..ini aja ‘perlengkapan’ harian adek dah lebih dari cukup..ntar para ikhwan malah makin segan utk ngajuin proposal..”

Di lain waktu..seorang kakak mengingatkan tentang penampilan..
“yee..udah umur segini masih nge-ransel juga..pake ‘tas cantik’ coba..”

Dan waktu itu ghina cuma nyengir..
[yaa kan berabe klo ‘nantangin’ orang tua.. ]

But now..Proudly I’ll say :

I love the way I am..

Aku yang tegas..

Aku yang menghargai diri [insyaallaah]..

Aku yang mandiri..

Aku yang mampu sukses walau tanpa lelaki..

Karna aku..ingin anak-anak ku kelak punya ayah yang ‘cerdas’..



*road to me-nyata-nya resolusi 2013   [aamiin..]



smangad slalu.. ^_^/

Friday, 25 January 2013

7 sifat jelek wanita yang harus kita hindari!






Sahabat... Hal-hal dibawah ini adalah sifat wanita yg paling tidak di sukai,
dan inilah sifat2 itu :

ANAANAH
Yaitu wanita yang selalu mengeluh dan mengadu serta kepalanya berbalut setiap saat. Menikahi wanita yang membuat-buat atau pura-pura sakit ini tidaklah baik.

MANAANAH
Yaitu wanita yang senantiasa menyebut-nyebut pemberiannya kepada suaminya hingga ia berkata ." Aku telah melakukan untukmu begini, begitu, begini dan begini ."

HADAAQAH
Yaitu wanita yang selalu menginginkan apa yang dilihatnya sehingga ia membebani suaminya untuk membelinya. Setiap kali mengujungi temannya dan melihat sesuatu yang dimilikinya ia tertarik dan ingin membelinya.

HANAANAH
Yaitu istri yang terlalu sayang dengan suami sebelumnya atau kepada anak-anak dari suami pertamanya atau selalu rindu kepada rumah keluarganya. Wanita begini lebih bauik dijauhi.

BARAAQAH
Mengandung dua makna. wanita yang diwaktu siang ia bersolek dan menghias wajahnya agar nampak cantik berkilau, atau wanita yang sering suka marah karena makanan.

SYADAAQAH
Yaitu wanita yang banyak berbicara.

Monday, 14 January 2013

kisah nyata: Engkau khadijah ku




[Subhanallah, dialah Khodijah jamaah dakwah ini. Sungguh teladannya terlalu sempurna hingga semua menangis deras membacanya]
______________________

"Selamat Jalan Isteriku, Engkau Layak Atas Karunia Syahid itu... .."

17 tahun yang lalu, saat masih aktif menjadi penulis buletin dakwah, aku membaca nama pelanggan yang memesan buletin tersebut. Hj. Robiatul Adawiyah, pasti wanita yang sudah tua. Sudah naik haji dan namanya jadul sekali.

“Akhi, seperti apa sih ibu Robiatul ini,” tanyaku kepada Pak Marjani yang bertugas mengantar buletin. ”Ndak tahu, nggak pernah ketemu, yang saya tahu dia pesan buletin itu untuk dikirim via bis ke Kotabangun”.

Wah wanita yang mulia, mau menyisihkan uang untuk berdakwah kepada masyarakat di hulu sungai Mahakam. Tak lama kemudian setelah kita menikah, Buletin Ad Dakwah dari Yayasan Al Ishlah Samarinda diantar ke rumah. Ternyata wanita mulia tersebut adalah engkau istriku, bukan wanita tua seperti yang kukira. Melainkan mahasiswi yang aktif mengajar di Taman Al Quran.

Istriku, beruntung aku dapat memilikimu. Sudah beberapa pemuda kaya yang mencoba mendekatimu tetapi selalu kau tolak. Kelembutanmu dan kedudukanmu sebagai putri seorang ulama besar menjadi magnet bagi para pria yang ingin memiliki istri sholehah. Kamu beralasan belum ingin menikah karena mau konsentrasi kuliah. Padahal alasan utamanya adalah kamu masih ragu dengan kesholehan mereka. Ketika Ustadzah Purwinahyu merekomendasika­n diriku, tanpa banyak tanya kau langsung menerimaku. Hanya karena aku aktif ikut pengajian kau mau menerimaku, tanpa peduli berapa penghasilanku.

Istriku, semua orang mengakui bahwa kau wanita yang tangguh. Jarang seorang wanita bercita-cita memiliki delapan anak sepertimu. Melihatmu seperti melihat wanita Palestina yang berada di Indonesia. Jika bertemu dengan Ustadz Hadi Mulyadi, suami mba Erni ustadzahmu, pasti pertanyaan pertama kepadaku adalah, “ Berapa sekarang anakmu?”. Sering orang bertanya kepadaku, “ Gimana caranya ngurus anak sebanyak itu?” Mudah, rahasianya adalah menikahi wanita yang tangguh sepertimu.

Kehangatanmu membuat anak-anak kita merasa nyaman di dekatmu. Di saat kau lelah sepulang dari mengisi halaqoh atau ta’lim mereka segera menyambutmu dan melepaskan kekangenan mereka. Kadang lucu melihat mereka membuntuti kemana kamu pergi. Kamu ke dapur mereka bergerombol di sekitarmu, pindah ke ruang tamu, pindah pula mereka ke ruang tamu. Masuk ke kamar, berbondong-bond­ong mereka ke kamar. Sampai ada anak yang selalu memegang-megang­ bajumu dan kamu berkomentar,” Nih anak kayak prangko aja, nempeeel terus.” Jangan salahkan mereka, akupun memiliki perasaan yang sama dengan mereka.

Kadang jika cintaku meluap aku berkata padamu, ”Bener nih kamu ndak nyantet aku? Aku kok bisa tergila-gila begini sama kamu?” Kamu tersenyum dan berkata, "cinta Umi ke Abi lebih besar dari cinta Abi ke Umi, Abi aja yang ndak tahu.”

Rasulullah bersabda, "Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” (HR. Ahmad). Sungguh aku merasa telah mendapatkan segalanya dengan kau di sisiku.

Kepribadianmu yang mudah bergaul menjadikanmu disenangi oleh banyak orang. Kamal berkata, “Umi terkenal banget di sekolah. Aku, Mba Aisyah, Mas Nashih, Hamidah, Hilma ini terkenal di sekolah karena anak Umi. Guru-guru kenal kami karena kami anak umi.” Aku ingat perjuanganmu menggalang beberapa orang tua murid ke kantor diknas untuk meminta tambahan kelas agar anak kita yang terlalu muda bisa diterima sekolah. Akhirnya SDN 006 Balikpapan mendapat tambahan kelas dan anak kita bisa bersekolah di sana. Seharusnya aku yang melakukan hal itu, bukan kamu.

Aku terpesona dengan caramu menjalin silaturahim dengan keluarga besarmu. Ketika kita pindah ke Balikpapan, sering kakak-kakakmu menelpon menanyakan kapan liburan ke Samarinda. Mereka rindu kepadamu. Kakakmu KH. Fachrudin, seringkali menelpon, "Kita mau ngadain acara ini, kamu ke Samarinda kah?” Sya’rani, kakakmu yang sering bepergian ke Jawa, ketika mendarat di Balikpapan pun sering berkata, "Baru dari Jawa, mau ikut saya sekalian naik mobil ke Samarinda?” Keponakan-kepon­akanmu pun sering bertanya, “Acil Robiah kapan ke Samarinda?” Jika kita liburan ke Samarinda, maka kemeriahan meledak begitu mendengar suaramu mengucapkan salam. “Wah, Haji Robiah dari Balikpapan.”

Aku kagum dengan semangatmu melaksanakan amanah dakwahmu. Sering kerinduanmu kepada keluargamu tertahan karena ada amanah dakwah yang harus kamu kerjakan. ”Sebenarnya akhir pekan ini keluarga besar kumpul. Ada acara keluarga. Tapi ada halaqoh ini dan majelis talim ini jadi ndak bisa ke Samarinda.” Semoga Allah SWT memasukkanmu ke dalam barisan orang-orang yang berjuang menegakkan agama ini.

Kesibukanmu berdakwah memang menyita waktumu. Tapi aku ridho karena kau tetap komitmen untuk mengurus rumah tangga dengan baik. Aku ridho ketika PKS berdiri, kamu bergabung dan berdakwah bersama mereka. Kulihat kau begitu menikmati hidupmu yang mungkin bagi pandangan sebagian orang sangat melelahkan.

Kamu juga aktif mengisi kajian Siroh Shahabiyah di Radio IDC FM. Ketika engkau ingin berhenti karena hamil dan mengajukan ustadzah lain, mba Irna yang mengasuh acara menolak dan mengatakan sebaiknya cuti saja dan sementara akan diputar ulang rekaman yang terdahulu. Saya tahu mereka pun telah jatuh cinta kepadamu.

Saat Ustadz Cahyadi mengadakan pelatihan keluarga, beliau meminta para peserta menulis tentang pasangannya. Aku terkejut ternyata engkau mengenaliku dengan baik. Engkau tahu makanan yang kusukai dan kubenci, teman-teman yang kuanggap shahabatku, karakter-karakt­erku, dan teman-teman Halaqohku. Diam-diam engkau memperhatikanku­. Terimakasih telah memahami diriku.

Pernah kau mengatakan bahwa kau ingin naik haji bersamaku. Aku mengatakan bahwa kamu sudah naik haji sehingga tidak wajib lagi. Kalau aku punya uang aku akan mengajak anak kita naik haji bukan kamu. Kamu berkata, “Aku akan kumpulkan uang daganganku agar bisa naik haji bersamamu.” Kamu pernah bercerita bahwa saking nikmatnya berada di Kota Mekah, kamu pernah berusaha tukar kloter dengan orang lain agar bisa bertahan lebih lama di kota Mekah.

Istriku, aku suka dengan caramu berbakti kepadaku. Ketika ustadz Muhadi mengajakku mendirikan SDIT Nurul Fikri Balikpapan kau pun mendukungku. Padahal kau tahu bahwa ini akan kembali mengurangi jatah uang belanja untukmu. Bahkan kau berkata, "Aku akan alihkan infaq-infaq yang selama ini ke lembaga zakat ke Nurul Fikri.” Selama ini kau memang menyisihkan uang transport dari mengisi majelis-majelis­ ta’lim untuk menunjang dakwahmu.

Istriku, aku menikmati sentuhan bibirmu ke pundakku sambil memelukku di saat kita naik motor berdua. Mungkin itu caramu menunjukkan kesetiaanmu. Aku tersanjung dengan gayamu menunjukkan cemburumu. Aku merindukan caramu menegurku jika engkau melihatku lalai dalam urusan agama kita. Aku merasa bahagia saat kau memujiku. Aku merasa hebat ketika engkau bermanja kepadaku.

Aku salut dengan kecintaanmu terhadap ilmu. Setiap ada ta’lim yang mendatangkan ustadz yang berkualitas kau berkata, “Harus duluan nih biar dapat duduk di depan.” Sayang, karena begitu banyaknya anakmu terkadang kau terhambat untuk berada di depan. Pernah kau begitu sedih karena tidak dapat menghadiri ta’lim yang diisi DR. Samiun Jazuli. Terlintas di dalam pikiranku, kelak aku akan membiayaimu untuk melanjutkan kuliah S2 agar kau bahagia.

Kau juga begitu bersemangat mengikuti tatsqif (Kajian Tsaqofah Islam) yang diadakan oleh PKS. Ketika ada ujian tatsqif, kau berusaha mengerjakan soal-soal tanpa berusaha menyontek. Tiba-tiba kau mendengar peserta ujian yang lain di sebelahmu saling berbisik tentang jawaban soal yang engkau tidak bisa mengerjakannya.­ Kamu pun menulis jawaban tersebut. Sepulang ke rumah engkau begitu menyesal dan gelisah. Engkau merasa berbuat curang karena mengerjakan soal dari mendengar percakapan orang lain. “Gimana nih Mas, aku sudah nyontek?” tanyamu. Aku jawab sambil bercanda, "Telpon dosennya, minta dicoret jawabanmu yang dapat dari hasil mendengar itu”. Ternyata engkau benar-benar menelpon ustadz Fahrur agar jawaban atas soal tersebut dicoret saja. Itu yang sering kulihat darimu, begitu takut akan dosa-dosamu. Aku bangga padamu istriku.

Istriku, hal yang sering membuatku bergetar adalah di saat melihat engkau sholat. Begitu khusyuk dan menjaga adab. Tidak pernah aku melihatmu terburu-buru di dalam sholat. Aku menikmati melihat caramu menghadap Tuhanmu. Selelah apapun dirimu kamu selalu berusaha membaca Quran satu juz perhari. Engkau juga tidak ingin meninggalkan dzikir harianmu. Haru rasanya saat-saat melihatmu tertidur dengan Quran masih berada di tanganmu.

Sering aku berangan-angan aku akan membahagiakanmu­ kelak saat anak-anak sudah besar. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke kota wisata. Aku akan membelikanmu perhiasan walaupun sekedarnya. Karaktermu yang tidak pernah meminta memang membuatku lalai memperhatikan kebutuhanmu. Bahkan motor pun tidak pernah kubelikan. Motor butut yang kau pakai adalah motor yang memang telah kau bawa dan kau miliki sejak masih gadis.

Aku yakin bahwa kebersihan hatimulah yang memancarkan aura persahabatan dari wajahmu. Banyak yang mengatakan kepadaku, ”Beliau adalah tempat saya menyampaikan curhat.” Terkadang kau terlambat pulang dari mengisi pengajian, ketika ku tanya kenapa terlambat, kau menjawab, “Kasihan ada yang pingin curhat, jadi dengerin dia dulu. Semoga Allah segera kasih dia jalan keluar.” Saya yakin mereka curhat kepadamu karena mereka merasakan kebaikanmu.

Kamu sering memujiku, “Suami yang pintar”. Kulihat, kamulah yang lebih pintar mengaplikasikan­ teori ke dalam praktek dunia nyata. Sebenarnya aku banyak belajar darimu. Kamu pintar sekali memulyakan orang lain. Kamu sering memberikan sesuatu kepada tetangga-tetang­ga kita. Terkadang aku malu karena yang kau berikan adalah hal-hal yang sederhana. “Malu ah ngasih ke tetangga segitu. Nggak level buat mereka.” Ternyata sikap perhatianmu kepada tetangga inilah yang membuat mereka mencintaimu.

Kamu mengatakan kepada pembantu kita, “Kumpulkan teman-teman yang lain, nanti saya yang membimbing bacaan Qurannya.” Dengan sabar kamu melatih mereka membaca Quran. Kau pun membelikan peralatan memasak sebagai hadiah kepada mereka yang lulus dan melanjutkan bacaan ke jilid berikutnya. Pernah kau melihat salah seorang diantara mereka sedang berlatih mandiri di rumahnya. Kau berkata, "Bahagianya aku Bi melihat mereka mau melatih bacaan secara mandiri.” Sampai terucap dari mulut pembantu kita, “Bu, saya ini mendapat hidayah dari tangan Ibu lho.”

Terkadang aku lupa untuk memberikan uang belanja, ketika kutanya engkau menjawab,”Aku pakai uang daganganku”. Kau­ kadang membelikanku baju sebagai hadiah ulang tahunku. Aku memang seorang yang berprinsip minimalis, terkadang jika ada barang yang menurutmu harus dibeli, aku mengatakan bahwa itu tidak perlu dibeli, kita da’i tidak usah terlalu mengejar kesempurnaan. Seperti biasa kau pun mengalah dan berkata, "Ya sudah pake uang aku aja.”

Ketika engkau mengalami pendarahan saat melahirkan anak kita yang ke delapan, engkau mengalami step. Sungguh hancur hatiku melihatmu menderita. Ketika dokter mengatakan butuh tiga kantung darah, aku segera keluar berlari menuju PMI tanpa sempat mengambil alas kaki. Aku sangat takut kehilangmu. Ketika diberitahu bahwa putra kita telah meninggal, aku sudah tidak peduli lagi, “Tolong selamatkan istri saya dok.” Setelah dioperasi kau sempat tersadar, aku tidak tega untuk mengatakan bahwa putra kita telah meninggal. Aku tidak ingin kau tahu bahwa kandungan yang sangat kau cintai dan sering kau elus-elus dengan penuh cinta telah mendahuluimu.

Dokter mengatakan bahwa kondisi sangat kritis, biasanya kondisi ini berakhir dengan kematian. Dengan kesedihan yang terus mengelayuti aku berkata, ”Umi tidak usah ngomong apa-apa, semua abi yang urus, Umi nyebut Allah saja.” Aku berharap seandainya Allah memanggilmu, maka ucapan terakhirmu adalah Allah. Walau tidak ada suara yang kudengar, kulihat mulutmu menyebut nama Allah dua kali. Saat itu aku bernazar, aku pun bertawashul dengan segala amalku agar Allah memberikan kesempatan agar engkau masih bisa bersamaku. Dan ternyata anak-anak kita bercerita bahwa saat itu di rumah mereka juga bernazar agar ibu mereka selamat.

Dengan sisa harapan yang tersisa di hatiku, aku berusaha membangkitkan semangatmu, ”Cep­at sembuh, anak-ana­k kita menunggumu di rumah.” Engkau mengangguk-angg­uk. Ternyata Allah SWT sangat mencintaimu. Allah SWT ingin memberimu karunia syahid. Kematianmu karena melahirkan putra kita menunjukkan bahwa Allah ingin memberikan yang terbaik untukmu. Sebagaimana Rasulullah mengatakan bahwa wanita yang mati karena melahirkan termasuk orang-orang yang mati syahid.

Seorang shahabatmu, Ustadzah Mahmudah, menelponku, "Mba Robi itu kalau saya perhatikan sangat khusyuk kalau memimpin doa atau mengaminkan doa. Kalau berdoa, saat kalimat wa amitha 'ala syahaadati fii sabiilik (matikanlah jiwa kami dalam syahid di jalan-Mu) sering saya lihat mba Robi meneteskan air mata. Ternyata kita memang tidak boleh meremehkan kekuatan doa.”

Pak Emil tetangga kita berkata, ”Saya tidak pernah berinteraksi dengan almarhumah. Hanya istri saya yang bergaul dengannya. Tapi kepergiannya membuat saya merasa kehilangan sampai dua hari”. Mungkin dia shock karena melihat istrinya terguncang.

Ustadzah Sujarwati berkata, "Saya mengisi pengajian dekat SMPN 10, mereka bercerita bahwa almarhumah ustadzah Robiah yang merintis majelis ta’lim ini. Mereka semua kemudian menangis karena teringat istri sampeyan.” Banyak yang terkejut dengan kepergianmu. Ada yang baru mendengar kematianmu, datang ke rumah untuk kemudian menangis karena kehilanganmu.

Hari kematianmu menjadi saksi atas kesholihanmu. Begitu banyak yang datang untuk memberikan penghormatan kepadamu. Ustadz Muslim mengatakan, "Sahabat-sahabat­nya dari pesantren Al Amin, Madura sudah siap-siap mau beli tiket untuk ke Balikpapan, tapi mendengar jenazah akan di bawa ke Samarinda mereka tidak jadi datang.” Beberapa ustadz datang dari Samarinda. Bahkan Ustadz Masykur Sarmian, Ketua DPW PKS Kaltim pun datang dari Samarinda dan menjadi imam yang mensholatimu. Aku pun melihat ustadz Cahyadi Takariawan, penulis buku dari Yogya, hadir di masjid itu. Mungkin Allah sengaja mengutus orang-orang sholih tersebut untuk mensholatimu dan menyempurnakan pahalamu. Motor-motor memenuhi jalan masuk ke komplek kita. Seseorang dengan heran mengatakan bahwa kemarin kepala kantor meninggal di komplek ini yang datang nggak sebanyak ini. Ini cuma ibu rumah tangga kok banyak banget yang datang.

Sesudah disholatkan di masjid Balikpapan, engkaupun dibawa ke Samarinda. Sampai di masjid Ar Raudhah, Aku melihat KH. Mushlihuddin, LC Koordinator Qiroati untuk Kalimantan hadir di sana. Kamu sering berkata bahwa kamu sudah menganggap beliau, guru mu membaca Quran, seperti ayah sendiri. Kecintaanmu kepada Quran membuat kamu mencintai beliau yang selalu komitmen berjuang menegakkan Al Quran di muka bumi. Sering kamu mengatakan bahwa kamu kangen dengan gurumu, ustadz Mushlih. Segera aku meminta beliau untuk menjadi imam sholat jenazah untukmu.

Kakakmu, Ibu Mursyidah berkata, ”Kepergiannya persis seperti ayahnya, KH. Abdul Wahab Syahrani. Disholatkan dari masjid ke masjid.” Sebelum meninggal beliau berwashiat untuk dikuburkan di Kotabangun. Karena washiat itu beliau disholatkan di tiga masjid di tiga kota oleh murid-murid beliau. Pertama disholatkan di Islamic Centre Samarinda, kemudian disambut oleh Bupati Kutai Kartanegara (Beliau adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia Kab. Kukar) dan disholatkan di masjid agung Tenggarong, kemudian disholatkan kembali oleh murid-murid beliau di masjid Kotabangun.

Dengan lelehan airmata aku ikut memandikanmu, mengangkatmu, memasukanmu ke liang lahat. Seseorang berkata, "Antum duduk saja biar yang lain saja.” Tidak, Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini. Aku sudah kehilangan kesempatan membahagiakanmu­ di dunia. Aku sudah kehilangan kesempatan membalas dengan baik pelayananmu kepadaku. Biarlah hari ini aku melayanimu walaupun sekedar mengurus jasadmu.

Terimakasih istriku, selama hidupmu kau selalu berusaha tidak merepotkanku. Ketika aku ke bengkel untuk menambal ban, aku mengabarkan kematianmu dan memohon doa untukmu. Tukang tambal ban, mendoakannya dan berkata, "Istri sampeyan sering ke sini sendiri, menuntun sepeda motor untuk menambal ban, atau kadang ganti ban motor”. Sekuat tenaga ku tahan airmataku. Aku tahu sebenarnya itu adalah tugasku. Kubayangkan adakah wanita lain yang mau menuntun motor ke bengkel untuk menambal ban karena tidak ingin merepotkan suaminya.

Mungkin kamu saat ini telah tersenyum bahagia bercanda bersama Abdullah, putra kita. Mungkin kamu sudah bertemu dengan ayah ibumu yang sangat kamu cintai. Walaupun aku betul-betul kehilanganmu, aku tahu bahwa karunia syahid yang Allah SWT berikan kepadamu adalah yang terbaik untukmu.

Istriku, aku menulis ini untuk menumpahkan rindu yang bergejolak di hatiku. Aku juga berharap agar orang yang membacanya mau meringankan lidahnya untuk mendoakanmu. Aku berharap tulisan ini dapat membalas jasamu kepadaku. Sungguh betapa lambatnya hari-hari berlalu tanpamu. Ingin rasanya aku segera masuk ke surga agar dapat bertemu kembali denganmu. Selamat jalan Khadijahku.....

Balikpapan, hari ke sembilan belas tanpamu di sisiku

Yang bersyukur mendapatkanmu

Suamimu,
Abu Muhammad



PKS Piyungan

Wednesday, 9 January 2013

Untuk sebuah hati yg masih menanti



Untuk sebuah hati yg masih menanti
menantilah dengan cinta...
Cinta yg akan membuatmu menerima apapun kehendak-Nya
kelak kau akan sadari...
Cintamu karena-Nya akan membuat penantian itu tak pernah sia sia

Untuk sebuah hati yg masih menunggu
menunggulah dengan senyum...
Senyuman ikhlas pada siapapun yg slalu menanyakan'y
katakan pada mereka...
Hatiku tak akan pernah kesepian dalam
setiap belaian ketetapan kasih sayang-Nya

Untuk sebuah hati yg masih mencari
carilah dengan ikhtiar yg suci...
Ikhtiar tanpa nafsu dan paksaan waktu
ikhtiar dengan harapan dan ketundukan
melangkah dalam koridor di jalan-Nya

Untuk sebuah hati yg masih merindu
rinduilah Allah Azza Wa Jalla...
yg paling layak untuk di rindu
kelak kau akan tau...
Merindu-Nya adalah penantian dan pencarian yg terindah

Untuk hatiku dan hatimu
sesungguh'y kau dan aku berada dalam genggaman-Nya
Maka tak ada yg perlu di khawatirkan
selama kita bersandar kepada-Nya
Jangan pernah meragukan apa yg
sudah ada dalam ketetapan-Nya....

Hari ini ku tulis surat untuk sebuah hati
berharap hati ini hanya menanti,menunggu,mencari dan merindu..hanya karena-Mu Yaa Allah

Aamiin Yaa Allah Yaa Rabbal'alaamiin
 
**status fb ukhtiy pelangi