Showing posts with label akhwat. Show all posts
Showing posts with label akhwat. Show all posts

Wednesday, 22 June 2016

taaruf : ketika harus menolak

"klo taaruf itu boleh nolak g mbk?"

banyaaaakkk dpt pertanyaan bgtu dr akhawat yg sepertinya lg galau eheeh ^^v

"anti tu enak..taaruf dpt yg pas yg udh kenal pula..udah tau org nya gmn.."

nah iniiii..ini justifikasi garing buat nolak taaruf..mmm

saya cuma kenal nama dan muka..lain2 g tau..di CV nya juga baba hana cuma nulis bio data macam bio buat isian rapot :P


image



Thursday, 25 September 2014

oh, sampai kapan menunggu siap menikah [?]

Seorang teman pernah bercerita, ia ingin sekali menikah. Tapi ia masih ragu dengan dirinya sendiri: “Adakah seorang gadis yang mau menikah denganku?” “Masih pantaskah aku berharap cinta dari seseorang yang mau menerima keadaanku yang seperti ini?”. Mungkin saja tipe ikhwan yang seperti ini agak-agak kurang percaya diri. Tapi, ternyata memang ada juga yang seperti ini. Agak banyak pula.

Sangat boleh jadi ada banyak ikhwan yang mungkin sadar diri dengan kondisi yang dimilikinya. Merasa tak perlu berharap banyak ada seorang gadis yang mau berbagi rasa dengannya. Bahkan sangat boleh jadi, bermimpi untuk menikah pun adalah sebuah kemewahan dan khayalan tingkat tinggi baginya. Ia merasa harus terus menunggu. “Menunggumu.. menunggumu…” (seperti lirik lagu Peterpan ya?)

7621522026_fbe7e78a94_z


Tuesday, 12 June 2012

berakhir dengan tabbaruj



Senang sekali rasanya mendapat kabar dari beberapa sahabat akan segera menyempurnakan separuh Dien ini. Ucapan selamat dan do'apun dipastikan turut serta mengiringi hari indah dan bahagia itu. Namun, haruskah kemudian berubah bentuk begitu, meski hanya sehari saja?

Al Ukh yang biasanya, dalam hari-hari luar biasanya tampil begitu apa adanya, polos dan seindah warna aslinya. Hanya dalam selang waktu semalam tampil begitu berbeda, bahkan kontras. Lalu, sebenarnya pemaknaan apa yang ingin disuguhkan dihari yang diberkahi itu?

"Hanya sehari, dan sekali seumur hidup mungkin" kata seorang sahabat lain menanggapi tanpa ingin mempersoalkan lebih lanjut.

"Hanya"? Saya mengerutkan dahi. Jelas-jelas bertabbaruj ria begitu dibilang 'hanya' dan semuanya seolah menjadi baik-baik saja? Ah, sepertinya tidak begitu halnya dengan saya.

Entah apakah saya yang terlalu mempersoalkan atau mereka yang tak mau ambil pusing. Yang jelas, dan yang saya fahami, seorang muslimah dilarang bertabbaruj kecuali di depan yang sudah menjadi haknya. Tak pernah ada toleransi waktu apakah itu semenit atau sehari, pun tak ada toleransi moment entah itu nikahan, wisudaan atau hajatan-hajatan lainnya.

Rasanya terlalu sayang, kalo 'izzah' keakhwatannya berakhir di moment berkah itu, yang seharusnya tetap Allah yang menjadi perhatian utama, bukan manusia dan yang lainnya. Dan haruskah memang begitu? Masa 'keakhwatan' diakhiri dengan tabbaruj. Kalau toh alasannya biar kelihatan tidak pucat, Perlukah setebal itu? Bukankah sekedarnya saja sudah cukup?

Ayolah ukhti... Allah telah meninggikan kedudukan kita dengan penjagaan terbaik lewat syari'atNya. Maka, tak selayaknya kita merendahkan apa yang sudah IA tinggikan.

***


hanya sebagai pengingat (terutama) untuk diri sendiri (kelak)
^_^



Saturday, 30 October 2010

ane ni akhowat matre..

ane ni akhowat matre..
ane g butuh g0mbalan ente yg bcite2 jd syuhade..
tp nyatanye g brani ma jarum bekam..pliz dech..

ane ni akhowat matre..
g mw diajak ke-re..
ape2 suseh..ape kate dunie..
capekz dech..

ana ni akhowat mata duitan..
gpp jg c mahar hafalan Quran..
asal bisa dpake buat biaya idup di metrop0litan..

ane ni akhowat g sabaran..
g pake timing-timing-an..
ta'aruf..khitbah..langsung ja halalan..
lanjut gan..

ane ni akhowat phitungan..
materi jd ukuran..
baju besi jaman perang..hari gini buat apa'an..??

ane ni nyebelin bangetz yach?
pilih-pilih cal0n laki suka-suka..
pake ukuran harta pula..
na'udzubillah..

tau dahh..