Manusia itu unik. Tiap manusia, mempunyai cara yang berbeda-beda dalam menyampaikan perasaannya. Tiap manusia pun, mempunyai cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan perasaannya. Lama mengenal, bukanlah menjadi jaminan.
Jika sekarang aku bertanya, seberapa jauhkah kalian mengenalku, apa yang akan dijawab?
Tidak kenal, sedikit kenal, atau menjawab kenal sekali?
sungguh, apa yang terlihat di mata masih bisa menipu. Bilangan tahun, bukan menjadi jaminan bahwa seseorang bisa benar-benar saling memahami. Karena untuk memahami, harus ada yang dikorbankan. Mengorbankan hati. atau lebih tepatnya, mengorbankan perasaan. Untuk mengalah ketika ada permasalahan. Untuk bijak menerima kekurangan.
Manusia itu unik. Ada kalanya, ekspresi cinta yang kita keluarkan, tak tersampaikan dengan baik. Mungkin, bagi sebagian orang, malah menyakiti.
Ada sebuah adegan film yang cukup menyentuh, bagiku. Sang laki-laki, setelah sekian tahun tak bertemu, akhirnya bertemu dengan seorang perempuan yang ia sayangi di sebuah restoran. Lewat sebuah janji. Di pertemuan itu, sang laki-laki berkata “kenapa kamu belum menikah? Aku sudah.” Sang perempuan hanya menangis, sedangkan sang laki-laki hanya menatap lurus, sambil terus berceloteh. Dan, akhirnya sang perempuan pun tahu, sang laki-laki kini telah buta.
Adegan berganti. Sang perempuan kini telah menikah. Dengan orang lain. Dan beberapa tahun kemudian, ketika sang perempuan sedang bermain dengan anaknya di sebuah sungai, datanglah beberapa orang menyampaikan pesan. Bahwa sang laki-laki telah meninggal. Bahwa sang laki-laki, menikah tepat setelah sang perempuan menikah. Ya. Benar. Tepat setelah sang perempuan menikah. Sang laki-laki berbohong. Ekspresi cintanya, membuatnya harus berbohong.
Sejujurnya, aku sedikit tak bisa menerima. Apa salahnya sang laki-laki jujur, agar mereka bisa menikah dan hidup bahagia? Tapi, karena ini adalah film, dan aku hanya penonton, terang saja aku harus menerima akhir film yang seperti itu.
Setelah kupikir lagi. Sang perempuan memang merasa sakit, atas kebohongan yang dilakukan padanya. Tapi, apakah sang laki-laki tidak merasa sakit? Apakah sang laki-laki tidak merasa terluka, melihat sang perempuan menikah dengan orang lain?
Padahal, mungkin hanya beberapa kalimat yang perlu ia katakan, agar ia bisa hidup berbahagia dengan perempuan itu.
Tapi mungkin sang laki-laki sadar. Selain karena cinta tak harus memiliki, bisa juga karena tak selamanya kedekatan itu bisa menyehatkan. Mungkin bagi sang laki-laki, ia merasa takut jika kebutaannya akan merepotkan orang yang dia kasihi. Mungkin ia takut, kekurangan penglihatannya hanya akan membuat, suatu saat, sang perempuan tak sanggup bersamanya, dan mungkin ia malah akan mengutuk ketidakmampuannya melihat.
Karena itulah ia memilih berbohong. Karena ia cinta dengan perempuan itu, juga karena ia cinta dengan dirinya sendiri. ia tak mau menyakiti, pun tak mau tersakiti.
Ada kalanya. Dalam ukhuwah ini, hal seperti itu bisa terjadi. bukan hanya dalam hubungan cinta lawan jenis seperti yang kupaparkan di atas. Karena cinta bersifat universal.
Bisa jadi, ekspresi cinta kita malah menyakiti orang yang kita cinta. Saudara seiman kita. Padahal, mungkin kita merasa telah mengenalnya. Tapi ternyata pilihan ekspresi cinta kita masih salah. maksud hati ingin menyampaikan yang menurut kita baik untuknya. Tapi ternyata dianggap menyakiti. Padahal, tak jarang mungkin apa yang kita sampaikan bisa terucap karena dia meminta pendapat kita.
Bisa jadi juga, kita telah memilih kata-kata yang bijak ketika menyampaikannya. Tapi tetap, hal itu terus dianggap telah menyakiti. Jika seperti ini terus, apa yang harus dilakukan? Yang satu merasa tersakiti, menganggap bahwa dia terus disakiti. Tapi, tahukah, bahwa bisa saja yang mengatakan hal tersebut, yang dianggap telah menyakiti, juga merasa sakit?
Merasa sakit, karena tidak menyangka kata-katanya bisa menyakiti orang lain.
Merasa sakit karena ia selalu dianggap menyakiti.
Padahal, semua itu dilakukan atas nama cinta. Cinta pada ukhuwah ini.
mungkin, kedekatan selama ini telah membuat kedua belah pihak tidak sehat. mungkin, kedekatan selama ini masih menyimpan ego masing-masing.
Saat seperti itu, mungkin menjauh adalah pilihan yang terbaik. Memilih untuk tidak bertemu. Memilih untuk hanya sesekali menyapa.
Menjauh, pada sebuah jarak. Bukan menjauh yang tak peduli, justru menjauh karena peduli. Menjauh karena cinta ini, jika dipaksakan, akan terus menyakitkan dua belah pihak. Menjauh, agar mungkin rindu yang tercipta bisa sedikit melembutkan hati.
"Karena itu, izinkanlah, jika hal ini menimpa kita semua, izinkanlah agar aku menjauh,sampai pada titik yg aman bagi kita ukhtiy fillaah... Karena aku cinta, padamu dan diriku sendiri".
>>jiaaahhhh..bahasa na euyy..tulisan kapan ya nie..mmm tuinx tuinx '_'7
Terkadang kita tak sadar saat kita merasa bangga pada diri kita sendiri... Saat orang" banyak membutuhkan kita, memuji kita... Padahal kita sendiri menyadari bahwa orang-orang itu sesungguhnya tidak mengetahui siapa dan bagaimana diri kita sebenarnya... dan parahnya kita selalu berusaha menampilkan berbagai bentuk kepalsuan... Berusaha tampil khusyu' tapi sesungguhnya tak khusyu', tampil pintar tapi diomongan doank... ishh....
Seorang hamba yang shaleh selalu merasa khawatir jika amalnya tak diterima atau cintanya ditolak oleh kekasihnya (ALLAH SWT)
Dan seorang durhaka akan semakin optimis bahwa kedurhakaannya pada ALLAH akan diampuni karena ALLAH Maha Pengampun....
Sebuah kisah pendek yang tiap di baca, membuat diri merasa malu...
Seorang 'alim Yusuf Asy-Syairizy mengisahkan tentang gurunya Abul Waqt yang dikenal sebagai salah satu ahli hadits dengan melakukan pengembaraan panjang demi menyelami Hadits' Rasulullah SAW dan di gelari Ruhlah ad-dunya (sang pengembara dunia).
Yusuf bertemu dengan gurunya di negeri Kirman. Setelah memberi salam dan kemudian duduk bersimpuh di hadapan gurunya.
Abul Waqt bertanya "Apa yang membuat mu datang ke negeri ini?"
Yusuf menjawab " Engkaulah yang menjadi tujuanku, aku telah menulis hadits" yang Engkau riwayatkan dengan penaku, namun aku tetap berusaha menemui Tuan dengan kedua kakiku agar bisa mendapatkan keberkahan nafas" Tuan..... "
Abul Waqt berkata " Semoga ALLAH memberikan Taufiq dan keridhoan kepadaku dan kepadamu. semoga ia menjadikan tujuan kita hanyalah padaNya.Duhai, SEANDAINYA SAJA ENGKAU MENGETAHUI AKU DENGAN SEBENAR-BENARNYA, NISCAYA ENGKAU TIDAK AKAN MAU MENGUCAPKAN SALAM KEPADAKU, NISCAYA ENGKAU TAK SUDI DUDUK DI HADAPAN KU..." beliau menangis. lama sekali.. Hingga orang" yang hadirpun ikut menangis.
Kemudian ia berdoa " Ya ALLAH... Tutupilah aib-aib kami dengan perlindunganMu Yang MahaIndah, dan jadikanlah apa yang ada di bawah perlindunganMU itu sesuatu yang Engkau ridhoi untuk kami...."
weitsss.... :'(
Jadi malu dan terharu.. nah aku atas semua kelalaianku apa yang harus kuucapkan?????
Katakanlah pada siapapun yang mencoba mengagumi dan memuji kita: "Saudaraku, andai engkau tahu siapa aku sebenarnya....." lalu tangisilah diri sendiri..
moga bermanfaat
(by CINTA YANG MEMBIUS)
>>note uni ipit..http://www.facebook.com/notes/ifit-amelia/saudaraku-andai-engkau-tahu-siapa-aku-sebenarnya
Jika kau mencintaiku kerana sifatku yang ceria Menjadi semangat yang menyala di dalam hati mu Kemudian aku bertanya Bila keceriaan itu kelam dirundung duka Seberapa muram cintamu kan ada?
Jika kau mencintaiku karena kecantikanku Menyejukkan setiap mata yang memandangnya Kemudian aku bertanya Saat kecantikan itu memudar ditempuh usia Seberapa pudarkah kelak cintamu padaku?
Jika kau mencintaiku karena ramah hatiku Memberi kehangatan dalam setiap sapaanmu Kemudian aku bertanya Kiranya keramahan itu tertutup kabut prasangka Seberapa mampu cintamu memendam praduga?
Jika kau mencintaiku karena cerdasnya diriku Membuatmu yakin pada putusanku Kemudian aku bertanya Ketika kecerdasan itu berangsur hilang menua Seberapa bijak cintamu tuk tetap mengharapku?
Jika kau mencintaiku karena kemandirian yang ku miliki Menyematkan rasa bangga mu yang mengenalku Kemudian aku bertanya Jika di tengah itu rasa manjaku tiba menyeruak Seberapa tangguh cintamu tuk tetap bersamaku?
Jika kau mencintaiku karena tegarnya sikapku Menambatkan rasa kagum pada kokohnya pertahananmu Kemudian aku bertanya Andai ketegaran itu rapuh diterpa badai Seberapa kuat cintamu bertahan?
Jika kau mencintaiku karena pengertian yang ku berikan Menumbuhkan ketenangan karena kepercayaan yang ku tanam Kemudian aku bertanya Kelak pengertian itu tertelan oleh ego sesaat Seberapa kau mampu mengerti cinta ini?
Jika kau mencintaiku karena luasnya danau kesabaranku Menambah dalamnya rasa cinta semakin kau mengenalku Kemudian aku bertanya Mungkin kesabaran itu mencapai batas membendung kesalahanku Seberapa besar cinta mampu memaafkan?
Jika kau mencintaiku karena keteguhan imanku Bagai siradj yang benderang mengantarkan cahaya Kemudian aku bertanya Kala iman itu jatuh menurun Seberapa berkurang akhirnya cintamu padaku?
Jika kau mencintaiku karena Ku yang tlah kau pilih sebagai cinta yang kan kau pegang sepanjang hayat Kemudian aku bertanya Pun hati ini tergoncang Seberapa mantap cinta ini tuk tetap setia?
Andai sejuta alasan tak cukup Untuk membuat cinta ini tetap bersama diriku Maka biar kupinta satu alasan tuk menjaga cinta ini....
Aku ingin kau cintai karena Allah.. Karena Dia kan selalu ada tuk menjaga Maka cintaku kan tetap utuh dan setia Hingga kelak, ku tak mampu lagi mencintaimu Karena cintaku berpulang pada-Nya..
Apa itu 'nisfu sya'ban'? (nisfu ya..bukan nifsu.. :D)
>>Nisfu Sya’ban berarti pertengahan bulan sya’ban.
Di dalam sejarah kaum muslimin ada yang berpendapat bahwa pada saat itu terjadi pemindahan kiblat kaum muslimin dari baitul maqdis kearah masjidil haram, seperti yang diungkapkan Al Qurthubi didalam menafsirkan firman Allah swt :
Artinya : “Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka Telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus". (QS. Al Baqoroh : 142)
Tentang keutamaan malam ini
>>terdapat beberapa hadis yang menurut sebagian ulama sahih.
Diantaranya hadis A'isyah:
"Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: "Hai A'isyah engkau tidak dapat bagian?". Lalu aku menjawab: "Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama". Lalu beliau bertanya: "Tahukah engkau, malam apa sekarang ini". "Rasulullah yang lebih tahu", jawabku. "Malam ini adalah malam nisfu Sya'ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki" (H.R. Baihaqi) Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.
Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: "Malam nisfu Sya'ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: "Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing." (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).
Imam Bukhari dan ulama hadits lainnya dan kebanyakan Ulama berpendapat bahwa hadits yang berkenaan dengan keutamaan malam nisfu Sya’ban dan puasa di siang harinya adalah lemah. Terdapat beberapa hadits shahih tentang keutamaan puasa pada hari-hari yang banyak di bulan Sya’ban, tetapi hadits-hadits itu tidak mengkhususkan satu hari dari yang lainnya,
Ulama lain juga berpendapat bahwa hadis lemah dapat digunakan untuk Fadlail A'mal (keutamaan amal). Walaupun hadis-hadis tersebut tidak sahih, namun melihat dari hadis-hadis lain yang menunjukkan keutamaan bulan Sya'ban.
apakah Nabi saw melakukan ibadah-ibadah tertentu didalam malam nisfu sya’ban ?
>>terdapat riwayat bahwa Rasulullah saw banyak melakukan puasa didalam bulan sya’ban, seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Aisyah berkata,”Tidaklah aku melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa satu bulan kecuali bulan Ramadhan. Dan aku menyaksikan bulan yang paling banyak beliau saw berpuasa (selain ramadhan, pen) adalah sya’ban. Beliau saw berpuasa (selama) bulan sya’ban kecuali hanya sedikit (hari saja yang beliau tidak berpuasa).”
Adapun shalat malam maka sessungguhnya Rasulullah saw banyak melakukannya pada setiap bulan. Shalat malamnya pada pertengahan bulan sama dengan shalat malamnya pada malam-malam lainnya. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah didalam Sunannya dengan sanad yang lemah,”Apabila malam nisfu sya’ban maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya.
Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya'ban?
>>Adalah dengan memperbanyak ibadah dan salat malam dan dengan puasa, namun sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, yaitu dengan secara sendiri-sendiri. Adapun meramaikan malam Nisfu Sya'ban dengan berlebih-lebihan seperti dengan salat malam berjamaah, Rasulullah tidak pernah melakukannya. Sebagian umat Islam juga mengenang malam ini sebagai malam diubahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke arah Ka'bah.
Adapun apa yang sering dilakukan oleh sebagian umat Islam, yaitu Salat Malam Nisfu Sya'ban sebanyak 100 rakaat, ini tidak ada landasannya dan termasuk bid'ah. Syeikh Abdurrahman bin Ismail al-Muqaddisi telah mentahqiq masalah ini. Demikian juga tidak ada do'a khusus untuk malam nisfu Sya'ban, namun cukup dengan do'a-do'a umum terutama do'a yang pernah dilakukan Rasulullah. Jadi sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya'ban dengan cara memperbanyak ibadah, salat, zikir membaca al-Qur'an, berdo'a dan amal-amal salih lainnya.
Al Qasthalani menyebutkan didalam kitabnya “al Mawahib Liddiniyah” juz II hal 259 bahwa para tabi’in dari ahli Syam, seperti Khalid bin Ma’dan dan Makhul bersungguh-sungguh dengan ibadah pada malam nisfu sya’ban. Manusia kemudian mengikuti mereka dalam mengagungkan malam itu. Disebutkan pula bahwa yang sampai kepada mereka adalah berita-berita israiliyat. Tatkala hal ini tersebar maka terjadilah perselisihan di masyarakat dan diantara mereka ada yang menerimanya.
Ada juga para ulama yang mengingkari, yaitu para ulama dari Hijaz, seperti Atho’, Ibnu Abi Malikah serta para fuqoha Ahli Madinah sebagaimana dinukil dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, ini adalah pendapat para ulama Maliki dan yang lainnya, mereka mengatakan bahwa hal itu adalah bid’ah.
Kemudian al Qasthalani mengatakan bahwa para ulama Syam telah berselisih tentang menghidupkan malam itu kedalam dua pendapat.
Pertama : Dianjurkan untuk menghidupkan malam itu dengan berjama’ah di masjid. Khalid bin Ma’dan, Luqman bin ‘Amir dan yang lainnya mengenakan pakaian terbaiknya, menggunakan wangi-wangian dan menghidupkan malamnya di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq bin Rohawaih. Dia mengatakan bahwa menghidupkan malam itu di masjid dengan cara berjama’ah tidaklah bid’ah, dinukil dari Harab al Karmaniy didalam kitab Masa’ilnya.
Kedua : Dimakruhkan berkumpul di masjid untuk melaksanakan shalat, berdoa akan tetapi tidak dimakruhkan apabila seseorang melaksanakan shalat sendirian, ini adalah pendapat al Auza’i seorang imam dan orang faqih dari Ahli Syam.
>>>
·Didalam kitab “al Mausu’ah al Fiqhiyah” juz II hal 254 disebutkan bahwa jumhur ulama memakruhkan berkumpul untuk menghidupkan malam nisfu sya’ban, ini adalah pendapat para ulama Hanafi dan Maliki. Dan mereka menegaskan bahwa berkumpul untuk itu adalah sautu perbuatan bid’ah menurut para imam yang melarangnya, yaitu ‘Atho bin Abi Robah dan Ibnu Malikah.
·Sementara itu al Auza’i berpendapat berkumpul di masjid-masjid untuk melaksanakan shalat (menghidupkan malam nisfu sya’ban, pen) adalah makruh karena menghidupkan malam itu tidaklah berasal dari Rasul saw dan tidak juga dilakukan oleh seorang pun dari sahabatnya.
·Sementara itu Khalid bin Ma’dan dan Luqman bin ‘Amir serta Ishaq bin Rohawaih menganjurkan untuk menghidupkan malam itu dengan berjama’ah.”
Dengan demikian diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menghidupkan malam nisfu sya’ban dengan berbagai bentuk ibadah seperti shalat, berdzikir maupun berdoa kepada Allah swt yang dilakukan secara sendiri-sendiri. Adapun apabila hal itu dilakukan dengan brjama’ah maka telah terjadi perselisihan dikalangan para ulama seperti penjelasan diatas.
Hendaklah ketika seseorang menghidupkan malam nisfu sya’ban dengan ibadah-ibadah diatas tetap semata-mata karena Allah dan tidak melakukannya dengan cara-cara yang tidak diperintahkan oleh Rasul-Nya saw. Janganlah seseorang melakukan shalat dimalam itu dengan niat panjang umur, bertambah rezeki dan yang lainnya karena hal ini tidak ada dasarnya akan tetapi niatkanlah semata-mata karena Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Begitu pula dengan dzikir-dzikir dan doa-doa yang dipanjatkan hendaklah tidak bertentangan dengan dalil-dalil shahih didalam aqidah dan hukum.
Dan hendaklah setiap muslim menyikapi permasalahan ini dengan bijak tanpa harus menentang atau bahkan menyalahkan pendapat yang lainnya karena bagaimanapun permasalahan ini masih diperselisihkan oleh para ulama meskipun hanya dilakukan oleh para tabi’in.